
SECARIK KERTAS
Oleh: Zarkasih Imam
Getar suara handphone membangunkan Malik yang masih terlelap saat matahari mendekati kepala.
“Siapa sih, mengganggu liburanku aja,” gerutu Malik seraya meraih handphone yang berjarak satu hasta dari tubuhnya yang masih memeluk bantal.
“Ini nomer baru siapa lagi!?” sekali lagi Malik mengutuk barang kecil itu yang menampilkan tujuh kali panggilan.
Setelahnya Malik membuka Chating Whatsapp. Ia terperanjat, hormon tubuhnya meracuni kepala membuatnya mengangkat tubuh dan melempar bantal kesayanganya.
Chating dari nomer baru itu menapilkan sebuah foto yang mengerikan. Wajah yang amat sangat ia kenal menjulurkan lidahnya, matanya melotot, lehernya terikat oleh temali, temali itu bergelantungan diatas pohon mangga. Mengangkat tubuh yang masih segar terbujur kaku, kakinya tidak menyentuh tanah.
foto itu diperbesar.
“Tidak mungkin, pasti bukan dia,” gumam Malik berkalang kepanikan ditengah kesukaran hatinya.
Mata Malik melotot, mulutnya menganga, “benar itu dia,” seketika handphone itu dengan kasar dilempar ke atas atas meja, “braak.” Malik ketakutan, segera ia menjauhkan diri dari benda bernyawa itu.
Suara notifikasi laksana genderang perang, bunyinya tiada henti membisingkan telinga. Perlahan ia mendekati kembali handphone nya, penuh keraguan ia menjulurkan tangan coba merengkuh barang yang setiap hari menjadi teman, kini bagai arang yang membara.
Sekelebat barang pintar itu sudah berada di genggaman tangan Malik, ia membuka chatingan nomer tidak dikenal itu. Setiap kalimatnya ia baca kata demi kata.
“Saya istrinya Affan. Puas kamu melihat dia gantung diri!” membacanya Malik semakin ketakutan.
“Kamu harus bertanggung jawab atas kematian Affan!” Hati Malik kini begemuruh mendapati kalimat yang menyalahkannya. Detak jantungnya berpacu hebat, berontak tak beraturan.
Sebuah screenshot foto postingan Facebook turut menyertai chatingan itu. Foto itu bertuliskan;
“Ditunggu i’tikad baiknya kepada Affan Afandi anak dari Bapak H. Markum dan Hj. Maesaroh juga Istri dari Affan Affandi, Nita Komalasari Binti H. Zaenudin dan Hj. Munawaroh.”
Malik memperhatikan nama Akun Facebook yang mempostingnya, Andika Slash. “Bangkeee, Goblok!” Malik mengumpat seorang diri mendapat nama Akun itu.
Malik mencari nomer keponakannya itu di handphone nya, penuh emosi ia segera menelponnya.
“Anjing, gak diangkat-angkat!” umpatan Malik membersamai suara dering panggilan.
“Hallo, Om!” kalimat dibalik layar Malik mulai terdengar.
“Tolol, saya suruh kamu buat nagih hutang di rumahnya, bukan mempostingnnya. Anjing!” Malik meluapkan amarahnya.
“Om, berkali-kali saya datengin rumahnya. Sama sekali gak pernah di respon. Dihubungi juga susah,” terang Andika membela diri.
“Tai, tai! Dia mati, Dik. Gantung diri,” Malik bingung harus percaya atau tidak kepada keponakannya. “Barusan istrinya ngechat, menyalahkan saya. Dia minta pertanggug jawaban,” sambung Malik.
“Saya sudah tau. Lagian matinya bukan karna postingan itu juga kali, Om,” enteng Andika menjawab.
“Ya, terus karna apa? istrinya menyangka karna Postingan itu.”
“Coba kalau dia mau menemui saya dirumahnya. Saya juga tidak memposting itu, Om. Saya posting hanya bertahan satu menit setelah itu saya hapus postinganya.”
“Terus gimana ceritanya bisa menyebar?”
“Saya posting di Group daerah saya, mungkin netizen sudah menscreenshotnya.”
“Aggggggh,” erang Malik, kesal.
“Yaudah, si Om. Bukan salah kita juga. Dia aja yang Bangsat. Punya utang malah kabur gak jelas. Katanya orang kaya, bayangin aj, Om rumah mertuanya aja besar, Toko Kain di depan rumahnya lantai dua. Masa punya utang segitu aja kabur-kaburan.”
“Tau, saya tau!”
“Tuh, kan! Pasti juga Om berani minjemin ke dia Karna dia Bos Kain kan, dia orang punya kan? Nyatanya apa, dia gak ada i’tikad baik buat bayar hutangnya kan!”
“Iyaaaah, tapi kenapa harus gini, sih. Apa saya terlalu kasar saat menagih ke dia?” Malik teringat ucapannya, umpatanya saat ia mencoba menagih ke Affan.
“Om, udah gak usah nyalahin diri sendiri gitu. Justru saya kasian sama Om. Om harus ngebayar cicilannya di pinjol. Sepuluh juta tuh gede loh, Om! Pasti Om juga di teror oleh pihak pinjol kan, sekarang dia mati siapa coba yang mau ganti uang itu. Istrinya? Mertuanya? Atau orang tuanya?”
“Aaaaaaagh, bangsat! Bajingan,” mendengar ocehan kepoankannya itu, Malik membisu. Hati dan pikirannya seakan diterpa badai di musim hujan.
“Kamu disana gimana sekarang?” tanya Malik.
“Sekarang saya gak berani kemana-mana.”
“Sebaiknya kamu jangan kemana-mana dulu. Tunggu sampai ini mereda.”
“Iyah, Om.”
Pembicaraan kedua lelaki itu berhenti saat hujan turun di tengah siang bolong. Gemrecik air hujan seakan peluru yang mendesir dari berbagai arah menuju Malik yang tengah membeku. Pikiranya melayang-layang membayangkan wajah Affan saat datang kepadanya malam-malam beserta temannya tempo hari.
Lamunan Malik pecah berserakan mendengar dering handphone nyakembali datang seperti petir yang menyertai hujan di siang itu. Malik hanya melirik, sekali lagi nomor baru tertera di layar handphone nya.
Keraguan menyelimuti Malik kembali untuk menjawab paggilan itu. Sesaat Malik menarik nafas dalam dan menyingkap tombol hijau, “Siapa ini?” tanya Malik dengan ketus kepada orang di sebrang sana.
“Mas, saya temennya Affan yang waktu itu malam dateng ke rumah, Mas.”
“Ardi?” Malik memastikan.
“Bener, Mas. Tau gak mas, ketika mas meminjamkan uang kepada Affan malam itu. Sebenarnya uang itu buat bayar hutang ke saya. Makanya di transfernya langsung ke rekening saya, kan!” terang Ardi.
Malik yang mendengar keterangan Ardi semakin geram, wajahnya menatap tajam ke arah jendela kamarnya.
“Sekarang Affan sudah meninggal, dia gantung diri. Viral, mas. Secara dia gantung diri di parkiran pasar, jelas membuat geger orang-orang pasar. Sumpah, banyak yang gak nyangka,” lanjut Ardi bercerita.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Affan, kok sampai nekat gitu,” tanya Malik dengan nada dingin.
“Mas Malik sedang menjadi perbincangan disana. Sebaiknya mas Malik ke rumah Affan. Jangan sampai isu yang beredar di keluarga Affan dan keluarga mertuanya bahwa Mas Malik sebagai penyebabnya.”
Mendengar kalimat terakhir Ardi membuat dada Malik berdegup kencang, suaranya mengalahkan air hujan yang menghantam genteng rumahnya. Nafasnya tak beraturan, tangannya gemetar. Kakinya terus ia gerakan ditempat. Kepanikan semakin menyelimuti pikiranya, sepertinya awan hitam di luar kamarnya beralih ke kepalanya.
“Aku harus selesaikan ini,” gumam Malik dalam kepanikan.
“Sore ini saya akan kesana!” tegas Malik menjawab permintaan Ardi.
Telepon pun terputus suara Ardi menghilang dari balik handphone nya. Segera Malik menelpon teman kantornya untuk menemaninya menemui keluarga Affan.
Tiba-tiba sebuah pesan Whatsapp dari istri Affan menganggu pandangannya yang baru saja selesai menelpon teman kantornya.
“Pokoknya sampai nama akun yang memposting masalah Affan tidak menemui kami. Akan saya laporkan kamu dan dia ke Polisi!”
Hati yang barus aja teguh, sekali lagi terhentak membaca pesan itu. Tak kuasa Malik menahan emosinya.
“Apalagi ini, anjing!” Malik membanting Hanphonenya ke kasur. Rambutnya ia acak-acak sejadi-jadinya, jeritanya bagai di dalam air, “aaaaaaaaaaagh,” hanya dirinya yang mampu mendengar. Isi Kepalanya berkecamuk hebat.
Malik meninggalkan kamarnya segera bergegas membasuh tubuh dan kepalanya yang hampir saja meledak.
***
Selepas suara Adzan Ashar berkumandang Malik dan teman kantornya mengendarai mobil menuju ke pusara Affan berbekal informasi dari Ardi lokasi Affan di kebumikan.
Dengan hati yang resah ia memantapkan langkah kakinya menuju pusara Affan yang masih basah bertabur kembang tujuh rupa dan dan daun pandan yang beraturan berbanjar tujuh baris memenuhi pusaranya.
Pandangan Malik kosong menatap batu nisan bertuliskan “Affan Afandi bin H. Markum dan Hj. Maesaroh”. Lengkap dengan tanggal lahir dan tanggal kematinnya, “Lahir, 11 Juni 1996 – Meninggal, 1 Januri 2025.”
Ingatan Malik kembali pada Affan. Teman yang dulu ia kenal gigih dalam memperjuangkan keinginannya, kesusksesan dimasa muda, istri yang cantik, mertua dan orang tua yang kaya membuat iri teman lainnya kini terbaring berkalang tanah dengan kematiaan yang naas. Rasa penasaran mulai menghantui benak Malik; “Apa yang sebenarnya terjadi, mustahil kalau hanya gara-gara ucapanku yang kasar saat menagih dan Postingan itu. Tidak mungkin, pasti ada sesuatu yang lebih besar,” Malik membatin, meragukan penyebab kematian Affan karnanya.
“Lik, doakan dia,” perintah teman Malik.
Lamunan Malik buyar, segera ia mendongakan kedua tanganya sambil bersimpuh di depan pusara Affan. Rapalan doa terus Malik panjatkan penuh hikmat.
“Ayok, Lik. Keburu gelap,” kembali teman Malik meminta.
Malik menyudahi doanya dan segera beranjak dari pusara Affan sambil mengusap pipinya yang sedikit basah oleh air mata.
Teman Malik memegang kemudi supir dan melesat meninggalkan Pusara Affan menuju ruamah kedua orang tua Al-Marhum.
Sesampainya di depan rumah duka, Malik tidak beranjak dari tempat duduknya, ia hanya mentap tajam rumah itu yang masih dipenuhi bendera kuning dan orang-orang mulai berhamburan meninggalkan rumah itu dari balik kaca mobil.
“Gak usah khawatir, kamu tidak salah. Jelaskan apa adanya. Saya akan menjadi saksi apa yang akan mereka lakukan kepada kamu. Yuk ,kita turun,” teman Malik meyakinkan.
Malik mulai membuka pintu mobilnya, ia melangkah penuh keyakinan menuju rumah bergerbang hitam yang besar.
“Assalamulaiku,” teman malik memulai masuk.
“Walaikum salam. Mari masuk, temannya Affan yah!” orang yang berpeci hita setengah baya itu menyambut Malik dan temanya ramah.
“Iyah, saya Ibnu dan ini Malik,” ujar Ibnu teman kantor Malik.
Mendengar nama malik kedua pasang mata yang tengah berbincang mendadak melotot tajam, Melihat Malik seperti kijang yang siap diterkam oleh harimau.
Pria bersarung lurik dan mengenakan peci hitam serta seorang wanita paruh baya yang mengenakan kerudung pasmina, gelang emasnya berjejer di tangan dengan tergopoh mengahmpiri Malik yang baru saja duduk di kursi tamu.
“Gara-gara kamu anak saya mati!” tiba-tiba, pria berpeci putih marah dengan menjuk muka Malik.
Orang-orang yang mendengar amukan itu terperanjat memandanginya.
“Kamu harus bertanggung jawab atas kematiannya,” pekik pria yang akrab disapa Pak Haji.
“Bapak jangan asal menuduh, saya datang kesini dengan niat baik,” jawab Malik tegas.
“Salah anak saya apa, sehingga kamu tega!” giliran wanita yang mengenakan perhiasan mencecar Malik.
“Pak, bu sabar dulu. Dengarkan Malik memberikan penjelasannya,” Ibnu menengahi.
“Tidak ada yang perlu dijelaskan, jelas-jelas dia yang membuat anak saya terbunuh,” Haji Makrom menolak dengan kasar.
“Saya datang kesini tidak untuk mencari ribut. Saya datang kesini untuk menjelaskan duduk perkaranya. Anak Kalian hutang sama saya,” ujar Malik dengan tegas dan lantang.
“Berapa hutangnya, apa ratusan juta atau milyaran. Cuiiih,” Haji Makrom meludah, “Hutang hanya jutaan sampai menyuruh keponakanmu mencemarkan nama baik anak saya di Facebook.”
“Dimana letak pencemaran nama baik itu” suara Malik sedikit meninggi. “Kalau saja Affan tidak susah dihubunginnya, tidak akan terjadi hal seperti ini,”
“Kamu kan bisa datang kerumah ini,” Haji Makrom masih bertahan dalan posisinya.
“Berkali-kali keponakan saya datang kerumah ini, bahkan ke rumah istrinya sama sekali tidak ada tanggapan.”
Tiba-tiba seorang pria sedikit lebih tua dari Malik datang melerai perdebatan mereka.
“Pak, Bu. Sudah. Malu sama orang lain,” ujar pria itu dan menjauhkan Haji Makrom dari Malik.
Haji Makrom seketika membeku, wajahnya merah, sorot matanya tajam memandang Malik.
“Perkenalkan mas, saya kakanya Affan,” kakanya Affan dengan sopan memperkenalkan diri dan duduk berhadapan dengan Malik, “berapa hutang adik saya kepada anda?”
“Affan meminjam saat itu totalnya sepuluh juta, sekarang hanya tinggal enam juta,”
Dengan nada tenang, “Gini mas. Kenapa kita menduga anda sebagai penyebabnya, ini yang kami temukan di saku celana Affan saat dia gantung diri,” Kakanya Affan memberikan secarik kertas kecil.
Malik menatap tajam secarik kertas itu dan ia mengambilnya. Tertulis di dalamnya; Titip anak dalam kandungan dan Malik No. Rek 084655769 BCA.
Malik sok, tak hentinya mata Malik menatap namanya tertera dalam wasiat orang yang mati Bunuh Diri. Tubuhnya seketika lemas, wajahnya tertunduk.
“Ditambah saat kami membuka handphone nya Affan, mas Malik menagih hutang dengan kata-kata kasar. Dan selang satu hari Affan bunuh diri. Jadi jelas wajar orang tua saya menuduh mas Malik.”
“Sumpah, mas saya tidak pernah ada maksud……” suara Malik terhenti.
“Saya paham mas, berkali-kali sudah saya jelaskn kepada orang tua saya kalau mas Malik bukan penyebab kematian Affan, tapi dia tetap tidak percaya.”
“Saya tidak akan pernah membayar hutang Affan sebelumm keponakan kamu yang menyabarkan itu di sosmed datang kemari,” Ibunya Affan tiba-tiba datang menyambar kedua anak muda itu.
“Bu, saya datang kesini sudah ikhlaaaas,” jawab Malik dengan nada yang mengayun.
Ibunya Affan langsung berlalu meninggalkan orang-orang yang ada di kursi tamu dengan membuang muka.
“Maafkan sikap orang tua saya, mas,” dengan rendah hati kakanya Affan berujar.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Affan, Mas?”
“Hmm,” kakanya Affan menghela nafas, “kalau diceritakan sebenarnya ini aib.”
“Saya tau betul Affan itu orangnya kaya gimana, tidak mungkin kalau gara-gara postingan itu. Sebenarnya ada apa, tolong kasih tau saya mas,” Mimik yang memelas Malik tampakan.
Sekali lagi kakanya Affan menghela nafas panjang.
“Saya juga tau dari keponakan saya, masih keponakan Affan juga. Affan kalau lagi ada masalah atau mau punya hajat pasti ceritanya ke dia,” kakanya Affan merapihkan duduknya. “Jadi kata keponakan saya kalau Affan sebenarnya Tujuh bulan terkahir setelah berumah tangga kehidupannya berubah drastis.”
Malik mulai menelan ludahnya sendiri.
“Dia tertekan dengan gaya hidup istrinya yang hedonis. Kalau keinginannya tidak dituruti maka ia akan memarahi Affan. Ditambah saat Hamil bulan pertama istrinya ngidam yang tidak masuk akal. Dia yang hanya mencari uang sendiri kerepotan membagi waktu jualan dan meladeni istrinya. Akhirnya Toko Kainnya terlunta-lunta.”
“Bukannya istri Affan anak orang kaya, mas?” tanya Malik yang setengah mempercai kebenarannya.
“Betul, mas. Mertua Affan Bos Kain besar, tapi mertuanya seakan memeras tenaga Affan. Adikku harus membeli Kain dari mertuanya, laku tidak laku Affan harus bayar sesuai harganya.”
“Mungkin karna itu akhirya Affan cari pinjaman kesana kemari,” sambung Malik.
“Betul, dan bukan hanya mas Malik saja yang memberikan pinjaman, yang saya tau ada sekitar enam orang yang Affan pinjami. Dan ya, semuanya untuk istri dan mertuanya. Karna jualan Affan saat itu sedang drop.”
“Tapi, mohon maaf ya, mas. Orang tua Affan dan mas sendiri tidak tau kalau Affan begitu?” tanya Malik penasaran.
Kakanya malik mempersilahkan Malik dan Ibnu untuk meminum minuman yang sudah tersedia di meja.
“Iya, mas.” Malik dan Ibnu segera mengambil minuman yang belum mereka sentuh sejak mereka tiba.
“Dari dia kecil dia tidak pernah terbuka kepada kami. Bahkan hanya untuk meminta sesuatu dia tidak berani bilang. Makanya dia memilih ikut membantu Bapak sama Ibu jualan Kain. Affan kalau ada sesuatu ia pendam sendiri. Beruntunglah masih ada keponakan tempat ia bercerita. Kalau tidak, tentu saya juga akan mencurgai mas, Malik,” jawab Kakanya Affan dengan tenang.
“Saya juga sangat memaklumi, sih mas. Sebab nama saya ada disitu,” ujar Malik membenarkan.
“Dan, ya akhirnya Affan jadi seperti ini. Saya sendiri sudah ikhlas dengan kepergian Affan, mungkin sudah takdirnya dia. Tapi Ibu dan Bappaku masih belum menerimanya,” tukas Kakanya Affan sambil menengok ke belakang melihat kedua orang tuanya.
Malik dan Ibnu hanya mengangguk kecil. Sekarang Malik setidaknya sudah sedikit lega karna sudah mengetahu perkara yang merugikannya.
“Oh iya, mas. Kami atas nama keluarga memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila Affan memliki kesalahan dan terimakasih, mas Malik sudah banyak membantu Affan.”
“Iya mas saya juga minta maaf,” ujar Malik.
Kakanya Affan mengangguk kecil seraya tersenyum.
“Mas, ijinkan saya bawa secerik kertas ini. Sebagai kenang-kenangan,” pinta Malik.
“Silahkan.”
“Kalau begitu kami pamit.”
Malik dan Ibnu beranjak meninggalkan rumah itu dengan membawa secarik kertas yang sudah membuat harinya runyam, kepalanya penuh awan hitam. Secarik kertas yang hampir saja menyeret Malik ke kurungan penjara.
Cerita ini mengingatkan kita bahwa di balik kemewahan yang tampak, setiap orang punya beban yang tak terlihat. Mari lebih bijak dalam berkomunikasi dan mengelola finansial.
Punya masalah finansial jangan dipendam sendiri. Yuk, belajar kelola dana darurat agar tidak terjebak dalam situasi sulit: Baca: 5 Alasan Mengapa Investasi Emas Cocok untuk Pasangan Muda di Tahun 2026
![]()


