
Retak dalam Pujian: Cerpen Tentang Kehilangan Tanpa Alasan Jelas
Ian|Cirebon
Lampu kafe yang temaram tak mampu menyembunyikan kegelisahan di wajah Arini. Ia terus mengaduk kopinya yang sudah dingin, sementara Satria hanya menatapnya, menunggu kalimat yang sedari tadi tertahan di ujung lidah wanita itu.
“Sat…” suara Arini memecah keheningan. “Aku rasa… kita sampai di sini saja.”
Satria tertegun. Ia meletakkan sendok kecilnya pelan. “Maksud kamu? Kita baru saja merayakan tiga tahun minggu lalu, Arin. Kamu bilang aku laki-laki paling tangguh yang pernah kamu temui.”
Arini menarik napas panjang, matanya menghindari tatapan Satria. “Justru itu masalahnya. Kamu terlalu tangguh. Kamu terlalu… sempurna buat aku.”
Satria terkekeh getir, nada suaranya sedikit meninggi. “Sempurna? Alasan macam apa itu? Apa aku pernah mengeluh selama ini, Rin? Saat kamu kehilangan pekerjaan tahun lalu, apa aku pernah lari?”
“Enggak, Sat. Kamu selalu ada,” jawab Arini lirih.
“Lalu kenapa? Apa aku pernah mendua? Apa aku kurang mengimbangi cara pikir kamu?” cecar Satria. Dadanya mulai terasa sesak. “Tiap hari kamu puji aku, kamu bilang aku sandaranmu. Tapi kenyataannya sekarang? Kamu pergi dengan alasan yang bahkan aku nggak bisa mengerti.”
“Ini bukan salah kamu, Sat,” Arini mencoba menyentuh tangan Satria, tapi Satria menariknya.
“Kalau bukan salahku, kenapa hasilnya begini? Kamu buat aku merasa semua usahaku selama ini nggak ada baiknya di mata kamu. Aku nggak pernah lari saat kita ada masalah, tapi sekarang… justru kamu yang lari dari aku.”
Arini bangkit dari kursinya, matanya mulai berkaca-kaca. “Sayangnya, kamu selalu menilaiku salah, Sat. Bukan ini yang aku mau.”
“Salah?” Satria menatap punggung Arini yang mulai menjauh. “Aku yang salah, atau caramu menilai ketulusanku yang salah?”
Hanya suara denting pintu kafe yang menjawab pertanyaannya. Satria duduk terpaku, menyadari bahwa pujian “tangguh” yang selama ini ia terima, hanyalah cara halus Arini untuk perlahan-lahan melepaskan pegangan.
![]()


