
Saat Kita Sibuk dengan MBG, Pendidikan Kita Diam-Diam Kritis di Urat Nadi
Saddam|30-04-2026
Ada yang perlahan dilupakan.
Di tengah riuhnya program baru, kebijakan baru, dan narasi besar tentang masa depan bangsa—kita sibuk membicarakan makan bergizi gratis (MBG).
Seolah-olah itu jawaban utama.
Padahal, di saat yang sama…
ada sesuatu yang jauh lebih sunyi, tapi jauh lebih genting:
Baca juga : Pendidikan Berkarakter yang Tak Berkarakter
pendidikan kita sedang kritis di urat nadi.
Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) menunjukkan kenyataan pahit.
Kemampuan literasi siswa kembali jadi sorotan.
Dan seperti biasa, kita bereaksi cepat—tapi tidak selalu tepat.
Siswa dianggap kurang membaca.
Guru dianggap kurang inovatif.
Sekolah dianggap belum maksimal.
Tapi jarang sekali kita berani membongkar lebih dalam:
bagaimana kalau yang bermasalah bukan hanya hasilnya… tapi cara kita mengukur, cara kita mengajar, dan cara kita membangun sistem itu sendiri?
Mari mulai dari asesmen.
Kita bangga dengan standar nasional.
Soal dibuat seragam.
Penilaian disamaratakan.
Tapi kita lupa satu hal mendasar:
Indonesia tidak pernah benar-benar seragam.
Anak di kota besar tumbuh dengan akses buku, internet, dan paparan informasi yang luas.
Sementara di desa—bahkan di pelosok—akses itu terbatas.
Bukan karena mereka tidak mau belajar.
Tapi karena mereka tidak mendapatkan kesempatan yang sama.
Lalu kita beri mereka soal yang sama,
dengan konteks yang sering tidak mereka kenal.
Dan ketika hasilnya rendah…
kita menyebutnya sebagai kegagalan siswa.
Padahal yang terjadi adalah ini:
kita menuntut standar yang sama, tanpa memastikan prosesnya setara.
Masalahnya tidak berhenti di situ.
Bahkan di tempat yang aksesnya lebih baik, hasilnya tetap belum menggembirakan.
Artinya, ada yang lebih dalam dari sekadar ketimpangan wilayah.
Kita masuk ke jantung masalah kedua:
cara kita mengajar.
Di ruang kelas, yang sering dilatih adalah kepastian.
Jawaban harus benar.
Langkah harus sesuai.
Waktu harus cepat.
Siswa dilatih menjawab,
tapi tidak dilatih memahami.
Dilatih menghafal,
tapi tidak diajak berpikir.
Kita ingin mereka mampu menganalisis,
tapi proses belajarnya tidak pernah mengarah ke sana.
Lalu kita heran…
ketika soal sedikit berubah, mereka kehilangan arah.
Di sisi lain, kita menggaungkan literasi.
Ada program membaca.
Ada gerakan literasi sekolah.
Tapi sekali lagi, kita terjebak pada bentuk, bukan makna.
Membaca dijadikan rutinitas,
bukan kebutuhan berpikir.
Siswa membaca… tanpa benar-benar memahami.
Mencatat… tanpa pernah mempertanyakan.
Ini bukan literasi.
Ini aktivitas yang menyerupai literasi.
Dan di titik ini, tiga masalah bertemu:
Asesmen yang seragam,
sistem belajar yang dangkal,
dan ketimpangan yang nyata.
Hasilnya?
Bukan sekadar nilai yang jeblok.
Tapi generasi yang tidak dilatih untuk memahami dunia secara utuh.
Kita harus jujur.
Ini bukan kegagalan siswa.
Ini kegagalan kita sebagai sistem.
Sekolah menjalankan.
Guru menyesuaikan.
Orang tua menekan.
Negara menetapkan.
Semua bergerak.
Tapi tidak selalu menuju arah yang benar.
Lalu di tengah kondisi seperti ini…
kita berharap satu program bisa menyelesaikan semuanya?
Tidak sesederhana itu.
Memberi makan bergizi itu penting.
Tapi memberi makan akal… jauh lebih menentukan masa depan.
Kalau kita serius ingin memperbaiki pendidikan, maka yang harus kita ubah bukan hanya program.
Tapi cara berpikir.
- Asesmen harus lebih kontekstual, tanpa kehilangan standar
- Pembelajaran harus melatih nalar, bukan sekadar hafalan
- Ketimpangan harus diakui, bukan disamarkan
Karena selama kita masih mempertahankan ilusi bahwa semuanya baik-baik saja…
maka yang akan terus jeblok bukan hanya nilai.
Tapi kemampuan kita sebagai bangsa untuk memahami, berpikir, dan bertahan di masa depan.
Dan mungkin, pertanyaan paling jujur hari ini bukan lagi:
“kenapa nilai siswa rendah?”
Tapi:
apakah kita benar-benar sedang membangun pendidikan…
atau hanya menjaga sistem agar terlihat tetap berjalan?
Bagaimana menurut kamu?
Apakah masalah pendidikan ada di siswa, atau sistemnya?
Tulis pendapatmu di kolom komentar.
![]()


