
Sepiring Kenangan di Warung Pojok (Part 1)
Suasana malam di Losari saat itu memang dingin, namun harapan yang mereka bangun terasa begitu hangat. Aris tidak pernah menyangka bahwa setiap janji yang ia ucapkan di sela kepulan asap sate akan menjadi beban berat di masa depan. Kenangan inilah yang kini menjadi inti dari Cerpen Rasa yang sedang ia jalani sendirian.
Cerpen rasa kali ini membawa kita pada sebuah ingatan tentang aroma yang tidak bisa dibeli dengan uang. Salah satunya adalah bau asap sate di pojok gang Losari ini. Dulu, Aris sering menganggapnya sebagai bau kemiskinan yang harus ditinggalkan. Namun, hari ini, bau itu justru terasa seperti penyesalan yang dibakar perlahan.
Janji di Balik Sebuah Cerpen Rasa
Tujuh tahun lalu, Aris duduk di bangku plastik ini dengan dompet tipis dan harga diri yang lebih tipis lagi. Hujan rintik turun, atap seng berisik dipukul air. Di depannya, Laras membagi satu porsi sate menjadi dua.
Hal itu dilakukan bukan karena romantis, tetapi karena mereka memang tak punya pilihan.
“Nanti kalau aku sukses, aku ajak kamu ke restoran paling mewah di Cirebon,” kata Aris sambil menatap bara api, seolah di sanalah masa depan dipanggang. Laras hanya tersenyum kecil menanggapi janji dalam cerpen rasa ini.
“Aku nggak butuh restoran mewah. Aku cuma butuh kamu jangan lupa pulang.”
Aris tertawa waktu itu. Ia pikir yang paling sulit adalah menjadi sukses. Ternyata, ia tidak tahu bahwa yang paling sulit adalah tetap ingat untuk siapa ia berjuang.
Keberhasilan yang Mengikis Hubungan
Kesuksesan datang perlahan, lalu deras. Rapat di hotel berbintang, mobil baru, dan nomor rekening yang membuatnya lupa menghitung. Sayangnya, di sela presentasi dan target, ada pesan dari Laras yang sering ia baca tanpa sempat membalas.
“Kamu pulang jam berapa?” “Jangan lupa makan.” “Aku nunggu.”
“Tidak ada kartu kredit yang bisa membayar seseorang yang sudah lelah menunggu.”
Kata terakhir itu lama-lama berhenti muncul. Mereka tidak pernah bertengkar hebat. Tidak ada piring pecah. Tidak ada teriakan. Hanya jeda yang makin panjang, telepon yang makin jarang, dan jarak yang diciptakan Aris sendiri.
Sampai suatu hari, Laras benar-benar berhenti menunggu.
… Bersambung ke Part 2
Sambil menunggu Part 2 tayang besok, baca juga solusi finansial kami: Investasi Emas untuk Pasangan Muda.”
![]()


