Kunci toko buku tua sebagai simbol janji cinta masa lalu
Cerita Rasa

Part 2 — Janji yang Tertinggal di Losari

Losari|Saddam|2026

Maya menatap kotak kecil itu tanpa berani menyentuhnya. Pikirannya kalut. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk menyembuhkan luka akibat ditinggalkan tanpa kabar yang jelas.

“Kamu pikir dengan datang membawa kotak ini, semuanya selesai?” suara Maya bergetar, kali ini bukan karena sedih, tapi karena amarah yang selama ini ia pendam. “Kamu pergi saat aku paling butuh dukungan, Rian. Kamu pilih Jakarta, kamu pilih ambisimu, dan kamu biarkan aku di sini menunggu jawaban yang tidak pernah datang.”

baca juga : Absen Nomor 18 : Lintang Samudra

Rian tertunduk. Ia sudah menduga reaksi ini. Ia tahu, permintaan maaf sedalam apa pun tidak akan cukup menghapus ribuan hari yang dilalui Maya dalam sepi.

“Aku salah, May. Aku terlalu sombong berpikir kalau aku bisa pulang setelah sukses dan kamu akan tetap di sana,” suara Rian parau. “Tapi di Jakarta, setiap kali aku melihat hujan, yang aku lihat bukan gedung pencakar langit, tapi bayanganmu di kafe ini. Aku kehilangan arah justru saat aku merasa sudah sampai di puncak.”

Rian perlahan membuka kotak itu. Bukan sebuah cincin berlian mewah seperti yang ada di film-film. Di dalamnya ada sebuah kunci tua dengan gantungan kayu kecil bertuliskan nama sebuah toko buku tua di pusat kota Cirebon.

Maya mengerutkan kening. “Apa ini?”

“Itu kunci toko buku impianmu yang dulu sering kamu ceritakan padaku,” jawab Rian mantap. “Aku tidak membelikanmu perhiasan, May. Aku membeli kembali impian kita yang sempat aku hancurkan. Toko itu sudah atas namamu. Aku hanya ingin kita mulai lagi, bukan sebagai orang asing, tapi sebagai dua orang yang belajar dari kesalahan.”

Maya terdiam. Ia teringat percakapan mereka bertahun-tahun lalu di pinggir pantai, tentang keinginan Maya memiliki toko buku kecil yang nyaman dengan bar kopi yang sederhana, sehingga aroma kopi bisa menyebar ke segala sudut toko buku ini. Ia tak menyangka Rian masih mengingat detail sekecil itu.

Hujan di luar mulai mereda, menyisakan bau tanah yang segar—petrichor.

“Aku tidak minta kamu menjawabnya sekarang,” lanjut Rian sambil berdiri. “Kunci itu milikmu, entah kamu mau membukanya bersamaku atau sendirian. Aku akan ada di stasiun besok jam sepuluh pagi. Kalau kamu datang, kita lihat toko itu bersama. Kalau tidak… aku akan pergi dan tidak akan pernah mengganggumu lagi.”

Rian melangkah keluar kafe, meninggalkan Maya yang terpaku menatap kunci di atas meja. Kopi di hadapannya sudah benar-benar dingin, tapi ada api kecil yang mulai menyala kembali di dadanya.

“Kalau kamu jadi Maya, apakah kamu akan memaafkan Rian setelah tahu dia mengingat impian terbesarmu? Tulis di kolom komentar ya!”

baca Part 1 di  Di Antara Aroma Hujan dan Kopi yang Mendingin

[BACA ENDINGNYA: Part 3 — Pertemuan di Stasiun Cirebon] (belum selesai dibuat tunggu!!!!

Loading

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google-site-verification=8FiYExXj-8aVbzjXPuEg2Bep_LoUiDjX05ENB-KtU-Q