
Di Antara Aroma Hujan dan Kopi yang Mendingin
Sore itu, Losari sedang tidak bersahabat. Langit abu-abu pekat menumpahkan isinya tanpa ampun. Di sudut sebuah kafe kecil, Maya duduk menatap jendela yang berembun. Di hadapannya, secangkir latte sudah kehilangan uap panasnya, persis seperti hatinya yang mendingin sejak tiga tahun lalu.
Baca juga : - Menunggu di Ujung Kata Aishiteru
Maya selalu benci hujan. Baginya, hujan adalah pengingat tentang janji yang luruh di stasiun kereta saat seseorang pergi mengejar mimpi ke ibu kota, meninggalkan ia dan kenangan yang belum sempat tuntas.
“Permisi, kursinya kosong?”
Suara itu berat, tenang, dan sangat familiar.
Maya mendongak. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik. Di hadapannya berdiri seorang pria dengan jaket yang separuh basah, memegang payung hitam yang masih meneteskan air. Tatapan matanya masih sama—tajam namun teduh.
“Rian?” bisik Maya hampir tak terdengar.
Pria itu tersenyum tipis, jenis senyum yang dulu selalu bisa meruntuhkan pertahanan Maya. Tanpa menunggu jawaban, Rian duduk di kursi di hadapannya.
“Aku selalu tahu kamu akan ada di sini saat hujan deras,” kata Rian pelan. “Kamu masih benci hujan, tapi kamu selalu memilih tempat paling dekat dengan jendela untuk melihatnya. Kamu masih kontradiktif seperti dulu, May.”
Maya membuang muka, mencoba menyembunyikan getar di bibirnya. “Tiga tahun, Yan. Kenapa baru sekarang?”
Rian menghela napas, jemarinya menyentuh pinggiran meja, nyaris menyentuh jemari Maya. “Dulu aku pergi untuk menjadi seseorang yang pantas untukmu. Tapi di sana aku sadar, bukan kesuksesan yang membuatku pantas, tapi keberanian untuk pulang.”
Hening merayap di antara mereka, hanya suara rintik hujan yang menghantam atap seng di luar. Namun, keheningan itu tidak lagi terasa menyesakkan. Ada hangat yang perlahan merambat kembali.
baca juga : Absen Nomor 18 : Luna Raisa Putri
Rian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya, meletakkannya di samping cangkir kopi Maya yang dingin. “Aku tidak ingin kopi ini hangat lagi, aku hanya ingin memastikan sore-sore hujanmu setelah ini tidak lagi kamu lalui sendirian.”
Maya menatap kotak itu, lalu menatap Rian. Di luar, hujan masih deras, tapi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Maya merasa tidak lagi membencinya. Karena terkadang, hujan tidak datang untuk membasahi luka, melainkan untuk mencuci masa lalu dan menumbuhkan harapan yang baru.
Lanjut Baca: Cerpen Romantis Part 2 — Janji yang Tertinggal di Losari
![]()



4 Komentar
Anonim
Ok sih
Anoni
Ok sih
Anoni
Ok sih
Joko
Ok sih