lustrasi cara mengatasi burnout dan kelelahan kerja
Cerita Rasa

Part 3 (Ending) — Stasiun dan Awal yang Baru

Losari|Saddam|2026

Menantikan akhir cerpen romantis terkadang sama mendebarkannya dengan menunggu kereta yang tak kunjung datang. Pukul sepuluh kurang lima menit, Stasiun Cirebon tampak sibuk pagi itu. Suara pengumuman keberangkatan kereta api bersahutan dengan deru mesin yang membelah udara. Di peron empat, Rian berdiri mematung. Ia terus melirik jam tangannya, lalu beralih menatap pintu masuk penumpang. Ini adalah akhir cerpen romantis yang membuktikan bahwa kesempatan kedua itu nyata.

Setiap kali ada sosok wanita berambut sebahu masuk, jantungnya berdegup kencang, lalu kembali lesu saat menyadari itu bukan Maya.

Penantian di Peron Stasiun Cirebon

“Mungkin ini memang harganya, Yan,” gumamnya pada diri sendiri. Ia sadar, memohon dimaafkan setelah tiga tahun menghilang adalah permintaan yang egois.

baca juga : Sunyi yang Tidak Sia-Sia: Tentang Mereka yang Melawan Tanpa Teriak

Kereta tujuannya sudah bersiap di jalur. Petugas sudah mulai meniup peluit panjang. Rian menghela napas berat, meraih tas punggungnya, dan mulai melangkah menuju pintu gerbong. Harapannya luruh, persis seperti air hujan semalam yang menguap disapu matahari pagi.

Keputusan Terakhir Maya

“RIAN! TUNGGU!”

Suara itu melengking di antara kebisingan stasiun. Rian berbalik dengan cepat.

Di sana, di balik pagar pembatas, Maya berdiri terengah-engah. Rambutnya sedikit acak-acakan, wajahnya kemerahan karena berlari. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat kunci tua dengan gantungan kayu yang diberikan Rian semalam.

Rian berlari mendekat ke arah pagar. “May? Kamu datang?”

Akhir Cerpen Romantis: Sebuah Kesempatan Kedua

Maya mencoba mengatur napasnya. Ia menatap Rian dalam-dalam, ada sisa air mata di sudut matanya, tapi kali ini bibirnya tersenyum.

“Aku benci stasiun ini, Rian. Aku benci perpisahan. Dan aku hampir memutuskan untuk membiarkanmu pergi lagi,” kata Maya dengan suara parau. “Tapi semalam aku sadar, aku jauh lebih benci jika harus menghabiskan sisa hidupku dengan bertanya-tanya ‘bagaimana jika’.”

Rian meraih tangan Maya dari sela-sela pagar. “Jadi…?”

baca juga : Sejarah Baru: Netralitas Atau Narasi Baru Yang Terkontrol

“Jadi, jangan berani-berani naik ke kereta itu,” potong Maya tegas namun lembut. “Kunci ini… aku tidak bisa membukanya sendirian. Rak bukunya terlalu tinggi, dan aku butuh seseorang untuk menyeduhkan kopi saat aku sedang membaca.”

Rian tertawa, tawa paling lepas yang pernah ia rasakan dalam tiga tahun terakhir. Ia tidak jadi masuk ke gerbong. Ia justru melangkah keluar dari area peron, memutari pagar, dan langsung memeluk Maya dengan erat.

Di tengah hiruk pikuk Stasiun Cirebon, dua hati yang sempat retak itu akhirnya kembali menyatu. Bukan karena waktu telah menghapus luka, tapi karena mereka memilih untuk membangun sesuatu yang baru di atas puing-puing masa lalu.

Toko buku impian itu bukan lagi sekadar janji di pinggir pantai Losari. Itu adalah kenyataan yang menunggu untuk mereka buka pintunya, bersama-sama.

— TAMAT —

Kalau belum baca sebelumnya bisa baca

part 1 Di Antara Aroma Hujan dan Kopi yang Mendingin

part 2 Janji yang Tertinggal di Losari

Siapa yang pernah ditinggal tanpa kabar? Ceritain dong di kolom komentar!

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *