Artikelana.com
Rasa Kita

Pendidikan Berkarakter yang Tak Berkarakter

Surat terbuka untuk guru — tapi tolong jangan dikasih baca gurunya.

Febriando Kelas XII IPS 5 SMN 1 Tanjung Angkatan 2008

Besok Hari Guru.
Hari di mana kami tiba-tiba ingat bahwa guru bukan hanya pengisi absen dan pemberi PR, tapi manusia yang sebenarnya mencoba membuat kami menjadi “generasi berkarakter”.

Katanya, pendidikan harus membentuk karakter.
Sayangnya, kadang karakter hanya jadi tugas makalah, bukan jadi kebiasaan.

Kami pernah disuruh bikin laporan tentang “Kejujuran”. Yang lucu adalah… setengah isi laporannya hasil salin-tempel dari internet. Karakter yang diketik, bukan dijalani.

Setiap hari kami lihat spanduk dengan kalimat motivasi:

“Membangun Generasi Cerdas dan Berkarakter.”
Tapi spanduk itu hanya kami baca saat nyapu halaman sekolah.
Habis itu? Ya sudah. Sisanya kembali ke realita: ulangan mendadak, nilai KKM, dan harapan agar guru hari ini tidak mood-nya buruk.

Karakter yang Kadang Sekadar Formalitas

Drama di sekolah itu sederhana:
Guru sibuk mengajar karakter, murid sibuk bertahan hidup.

- Sejarah Baru: Netralitas Atau Narasi Baru Yang Terkontrol
- PION dan Jalan yang Nggak Pernah Dilihat

Tugas tentang empati, tapi yang penting nilainya 90.
Diskusi tentang toleransi, tapi lebih sering debat siapa yang jadi ketua kelompok.
Pendidikan karakter jadi seperti hiasan ruang kelas: ada, tapi jarang diperhatikan.

Padahal… karakter itu tidak bisa dicetak lewat printer.
Dan moral tidak bisa dibentuk lewat soal pilihan ganda.

Kami Juga Tahu… Guru Bukan Robot

Jujur saja, kami kadang capek jadi murid.
Tapi kami kadang lupa — guru juga capek jadi guru.

Guru bukan search engine,
tapi sering ditanya seperti Google.

Mereka bukan mesin fotokopi,
tapi harus terus menghasilkan dokumen administrasi.

Mereka bukan superhero,
tapi dituntut bisa menyelamatkan masa depan semua murid sekaligus.

Dan kalau murid mengeluh karena tugas banyak…
guru juga bisa mengeluh karena koreksi tugasnya lebih banyak.

Kami sadar, guru tidak hanya mengajar.
Mereka menjaga mental kami dari dunia yang makin berisik.
Mengajarkan kapan harus jujur, kapan harus sabar, kapan harus percaya diri walaupun nilainya cuma 65.

- Absen Nomor 18 : Lintang Samudra
- Tempat Pulang Gadungan

Mungkin Inilah Pendidikan Karakter yang Sebenarnya

Tanpa sadar, kami belajar karakter bukan dari modul,
tapi dari cara guru memperlakukan kami.

> Kami belajar sabar dari guru yang bertahan walau kelas ribut.
> Kami belajar berani dari guru yang terus mengajar meski kadang tidak dihargai.
> Kami belajar jujur dari guru yang bilang,

“Saya juga nggak paham dulu waktu sekolah. Tapi ayo kita coba bareng-bareng.”

Dan kami belajar bersyukur…
ketika menyadari bahwa guru tidak pernah benar-benar menyerah pada kami.

Terima Kasih — Tapi Jangan Baca Surat Ini, Bu/Pak

Pendidikan berkarakter mungkin masih belum sempurna.
Kadang terasa seperti slogan.
Kadang hanya jadi proyek tugas akhir semester.

Tapi kami sadar… kalau pendidikan ini masih berjalan,
itu karena ada guru yang tidak menyerah.

Jadi, sebelum besok kami menyanyikan Hymne Guru dengan suara pasrah…
kami ingin bilang diam-diam:

Terima kasih, Bu/Pak. Terima kasih sudah tetap percaya bahwa kami bisa jadi manusia yang lebih baik, 
meskipun kami sendiri kadang ragu.

Selamat Hari Guru.
Dari murid yang sering lupa PR,
tapi tidak akan lupa jasa guru-guruku selamanya.

dari muridmu yang tak percaya sekarang pun menjadi guru juga. Febriando Saddam Baehaqi, Anak Kelas XII IPS 5.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *