
Di Tengah Kebisingan, Diam Adalah Teriakan Terkeras
Saddam | 09 – 09 – 2025
Dunia hari ini terlalu bising. Mesin, notifikasi, komentar, debat kusir, semuanya berlomba jadi yang paling keras. Kita diajari untuk terus bersuara, terus hadir di layar, terus menjejalkan diri dalam arus yang deras. Lalu, tanpa sadar, kita kehilangan satu keterampilan paling mendasar: diam.
baca juga: - Pendidikan Kita: Makin Kesini, Makin Kesana - Absen Nomor 18 : Luna Raisa Putri
Di tengah hiruk-pikuk itu, suwung hadir sebagai jalan. Suwung bukan sekadar hening; ia adalah ruang batin yang jernih. Dalam suwung, kita belajar mendengar ulang—bukan hanya suara orang lain, tapi suara terdalam dalam diri. Ia mengingatkan kita bahwa tidak semua hal perlu dijawab, tidak semua kegaduhan harus ditanggapi.
Ironisnya, di zaman yang mengukur eksistensi dari seberapa sering kita muncul di timeline, berdiam diri sering dianggap kelemahan. Padahal justru di sanalah letak keberanian: keberanian untuk mundur sejenak, mempertajam batin, dan menata ulang arah.
baca juga: - SMA N 1 Losari Gelar Pelatihan Jurnalistik: Menyalakan Api Literasi dari Kelas ke Kelas - Tokoh Pemuda Losari Menanyakan Urgensi Pemekaran Cirebon Timur
Suwung bukan pelarian, melainkan perlawanan. Perlawanan terhadap bising yang membuat kita lupa menjadi manusia. Karena hanya dengan diam yang penuh, kita bisa kembali mendengar: suara jiwa, suara kasih, suara yang tak pernah bisa ditulis algoritma.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin ribut, diam adalah satu-satunya teriakan yang benar-benar terdengar.
![]()


