{"id":302,"date":"2025-09-30T09:20:37","date_gmt":"2025-09-30T09:20:37","guid":{"rendered":"https:\/\/artikelana.com\/?p=302"},"modified":"2025-10-07T14:53:55","modified_gmt":"2025-10-07T14:53:55","slug":"tempat-pulang-gadungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/","title":{"rendered":"Tempat Pulang Gadungan"},"content":{"rendered":"<blockquote><p>Oleh: Zarkasih Imam | 28\/09\/2025|Cirebon<\/p><\/blockquote>\n<p>Rana hanya menyelami perasaannya, murung menutup diri dari hiruk pikuk kehidupan. Ia meratapi dari jengkal demi jengkal reka kejadian antara Ayah dan Ibunya. Rumah tempat ia berpulang kini seperti makam yang tak bertuan. Begitu angker dan menyeramkan, hampir setiap waktu ia mendengar jeritan, erangan dan suara-suara peralatan dapur yang mendarat bagai genderang perang. Suara-suara itu telah menggantikan gelak tawa dan kehangatan meja makan.<\/p>\n<p>\u201cKamu yang tidak becus mengurus rumah.\u201d Kalimat itu menembus dinding tembok kamar Rana dari umpatan Ayahnya kepada istrinya.<\/p>\n<p>Rana menutup rapat telinganya dengan buku yang tengah ia baca, seketika kakinya ia himpitkan kebadanya, rapat tak bercela.<\/p>\n<p>\u201cKamu pikir saya pembantu di rumah ini. Jawab! Semalam kamu tidur dimana?\u201d tegas Ibu Rana menanyakan suaminya.<\/p>\n<p>Rana semakin menekan buku itu ke telinganya. Bayang-bayang masa kecilnya melintas, mengitari kepalanya. Betapa bahagianya saat ia kecil memiliki kedua orang tua yang saling sayang, di malam yang dingin mereka saling menghangatkan, di meja makan saling suap, saat ibunya sedang menyiram tanaman, ayahnya dari belakang menjailinya. Gelak tawa saling menertawakan.<\/p>\n<blockquote>\n<pre><span style=\"font-size: 14pt;\"><a href=\"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/08\/24\/tokoh-pemuda-losari-menanyakan-unrgensi-pemekaran-cirebon-timur\/\">- Tokoh Pemuda Losari Menanyakan Urgensi Pemekaran Cirebon Timur<\/a>\r\n<a href=\"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/19\/menunggu-di-ujung-kata-aishiteru\/\">- Menunggu di Ujung Kata Aishiteru<\/a><\/span><\/pre>\n<\/blockquote>\n<p>Saat diantara salah satunya sakit hati mereka tidak tentram, resah tak henti mengingtkan untuk segera minum obat. Tapi sekarang, mereka tidak beda jauh dengan orang tua lainya. Bertengkar, saling tuduh, saling mencari kesalahan, cerai dan ujung-ujungnya anak yang menjadi korban. Anak di titipkan kepada neneknya.<\/p>\n<p>\u201cJawab!\u201d layaknya sebuah tabrakan mobil yang menghantam trotoar, suara itu terdengar keras tanpa ampun. \u201cJangan diam saja!\u201d tegas ibu Rana.<\/p>\n<p>Suara yang menggelegar itu meracuni bayangan Rana. Ingatan indah itu seketika sirna tak tersisa.<\/p>\n<p>\u201cPercuma kalaupun aku menjawabnya, kamu tidak akan percaya!\u201d<\/p>\n<p>\u201cAaaaaaaagh,\u201d erangan dengan dua tangan yang mendarat bergantian, memukul-mukul dada pria yang tengah tertuduh itu, tanpa henti.<\/p>\n<p>Ayah Rana yang tidak kuasa merasakan perlakuan istrinya, ia meraih tangan istrinya dengan mata yang tajam. Sekuat tenaga ia mencoba menghentikan pukulan yang terus menerus mendarat di dadanya, \u201ccukup, sudah cukup!\u201d<\/p>\n<p>Ibu Rana\u00a0\u00a0 meronta \u201cLepas! Dasar bajingan,\u201d Umpat Ibu Rana, derai air matanya teramat deras. Pipi itu yang biasa meneriam ciuman dari suamainya kini kuyup oleh air matanya.<\/p>\n<p>Mendengar umpatan itu Ayah Rana langsung melemparkan kedua tangan istrinya dengan sekuat tenaga. \u201cPraaaaaaang!\u201d meja kaca yang tidak tahu menahu pecah dibuatnya, ibu Rana terpental menghantam meja kaca itu.<\/p>\n<p>\u201cCukuuuuup!\u201d teriak Rana menggema kesluruh ruangan.<\/p>\n<p>Kedua mata orang tua Rana terbelalak melihat anak semata wayang yang ia sayangi kini berteriak di hadapan mereka berdua. Ibu Rana bergegas bangun, dengan panik ia membersihkan baju yang penuh pecahan kaca dan langsung menghampiri Rana.<\/p>\n<p>\u201cSayang, tadi ibu tersandung dan jatuh menimpa meja itu,\u201d kedua tangan Ibu Rana meraih kedua pipi anaknya dengan mata yang berkaca-kaca.<\/p>\n<p>Rana menatap tajam, mata yang penuh amarah itu terus memandang ayahnya, sedang tubuhnya membeku. Melihat tatapan itu Ayah Rana menghampiri anaknya dan meraih tangannya.<\/p>\n<p>\u201cBetul apa yang dibilang Ibu, ini semua bukan seperti apa yang kamu pikirkan,\u201d Ayah Rana memelas, \u201coh, iya papa sudah bawakan makanan kesukaan kamu, sayang.\u201d<\/p>\n<p>Rana mengibaskan tangannya yang tengah dipegang oleh ayahnya. Ayah Rana memandangi tanganya yang terusir, alisnya meruncing, nafasnya terengah, tubuhnya lunglai.<\/p>\n<p>Sedang tangan kiri Rana mengehmpaskan kedua tangan ibunya menajuh dari pipinya. Tangan Ibunya mencoba kembali meraih pipi Rana, ia menagkisnya. Ibu Rana tidak bisa berbuat apa-apa hanya membeku dengan mata terbelalak.<\/p>\n<p>\u201cTidak usah lagi berpura-pura baik-baik saja,\u201d wanita muda yang berkulit putih langsat itu perlahan mengalirkan air matanya.<\/p>\n<p>Mendengar anaknya berkata demikian mereka seakan tersambar petir, matanya terbelalak, tubuhnya kaku, mulut yang sejak tadi seperti kicau burung mendadak saling terkunci.<\/p>\n<p>\u201cSelama ini Rana hanya diam saja mendengar pertengkaran ayah sama ibu, karna Rana percaya Ibu sama Ayah bisa melewati semua ini dan bisa menyelasaikannya. Tapi hari ini Rana kecewa dengan Kalian!\u201d Bibir Rana bergetar menahan amarahnya.<\/p>\n<p>\u201cSayang dengar ibu,\u201d ujar ibu Rana<\/p>\n<p>\u201cRana, Ran.\u201d Sambung ayah Rana.<\/p>\n<p>Tanpa kata Rana meninggalkan mereka berdua, masuk ke dalam kamar, membanting daun pintu yang terbuat dari kayu itu. Suaranya menggelagar membuat ayah dan ibunya kaget tak percaya.<\/p>\n<p>\u201cRan, Rana. Dengar Ibu sayang, buka pintunya.\u201d<\/p>\n<p>Rana tidak menggubris, Tas yang sedari tadi terdiam tidak lama berselang sudah berpindah tempat, dia atas kasur. Rana membanting tas itu dengan kesalnya.<\/p>\n<p>\u201cTok, tok, tok!\u201d terdengar suara pintu, \u201cSayang, ayah janji ini tidak bakal terulang lagi.\u201d<\/p>\n<p>\u201cDiam!, urus saja urusan kalian.\u201d Pekik Rana yang tengah sibuk mengemas bajunyan ke dalam tas.<\/p>\n<p>Buku yang tersusun rapih diatas rak buku, Rana memilah, sebuah buku filsafat \u201cDunia Shopie\u201d ia masukan ke dalam tas. Buku catatan sebesar buku tulis tak luput ia kemas, satu tempat dengan buku tersebut. Sebuah kamera Gopro dan Cannon D5000, pemeberian ayahnya saat ia mulai sekolah SMA pun menyertai barang lainya, tas sepanjang punggungya, sebesar badanya kini telah penuh.<\/p>\n<p>\u201cRana buka pintunya, sayang,\u201d pinta ayah Rana.<\/p>\n<p>\u201cSemua ini gara-gara kamu,\u201d pekik Ibu Rana ke arah suaminya.<\/p>\n<p>\u201cKok, kamu nyalahin aku. Kamu yang memulai duluan. Kalau saja kamu tidak curiga melulu semua ini tidak akan terjadi,\u201d jawab Ayah Rana tidak kalah.<\/p>\n<p>\u201cOooh,\u201d dua tangan Ibu Rana bertolak pinggang, dengan muka masam dan mata yang menyala, \u201cJadi aku harus percaya gtu aja. Kamu pikir aku wanita bodoh, seperti wanita-wanita lain yang kamu dekati. Hah! Begitu maksudmu!\u201d<\/p>\n<p>\u201cCukup!\u201d mata yang merah, bibir yang bergetar, memkik keras. \u201ccemburu butamu yang membuat anak kita berani bicara kasar&#8230;&#8230;&#8230;..\u201d<\/p>\n<p>\u201cBraaaaaag!\u201d suara daun pintu terbuka dengan kasar.<\/p>\n<p>\u201cKalian sama saja!\u201d ujar Rana dengan suara lantang dan berlalu meninggalkan mereka berdua.<\/p>\n<p>\u201cSayang kamu mau kemana?\u201d tanya Ibu Rana dengan lirih meraih tangan Rana.<\/p>\n<p>\u201cJika kamu marah pukul saja ayah, tapi kamu jangan pergi yah, sayang.\u201d Ayah Rana pun sama memelasnya.<\/p>\n<p>\u201cHarusnya dari dulu aku pukul, bukan Rana tapi aku yang akan memukul.\u201d Pekik Ibu Rana membalas ucapan suaminya.<\/p>\n<p>Tanpa kata Rana menghempaskan tangan Ibunya yang sedari tadi menggenggamnya dan langsung berlalu.<\/p>\n<blockquote>\n<pre><span style=\"font-size: 14pt;\"><a href=\"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/\">- Absen Nomor 18 : Luna Raisa Putri<\/a>\r\n<a href=\"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/08\/25\/sma-n-1-losari-gelar-pelatihan-jurnalistik-menyalakan-api-literasi-dari-kelas-ke-kelas\/\">- SMA N 1 Losari Gelar Pelatihan Jurnalistik: Menyalakan Api Literasi dari Kelas ke Kelas<\/a><\/span><\/pre>\n<\/blockquote>\n<p>Ayah Rana segera mengejarnya dan memanggil-manggil nama anaknya, \u201cRana, Rana!\u201d\u00a0\u00a0 tangan Rana diraih oleh ayahnya, \u201ctunggu sebentar sayang,\u201d Ayah Rana menggambil dompet dari balik sakunya. \u201cini sayang. Buat bekal kamu,\u201d uang itu ia letakkan ditangan Rana, \u201cjangan lupa kabari ayah lokasi kamu,\u201d<\/p>\n<p>Dengan tangan yang bergetar Rana meremas uang yang diberikan ayahnya. Deraian air mata bertumpah ruah seperti hujan di bulan Desember. Segera Ayah Rana menyeka air mata yang tak jua berujung, membekas laksana kristal di pipi yang tiada habis ia cubit sewaktu kecil.<\/p>\n<p>Rana berlalalu membawa amarah bersama hati yang gundah seperti putus cinta dipengalaman pertama.<\/p>\n<p>Deru suara motor <em>Cafe Racer<\/em> memecah kehampaan hati Rana. Suaranya mengelegar meninggalkan pelataran rumah yang rindang di penuhi pepopohanan hias yang tertata rapih.<\/p>\n<p>Batu alam yang mengitari tiap tanaman menghidupkan suasana. Rumput jepang yang subur terhampar di samping jalan utama menuju rumah. Suara pintu gerbang berbunyi riuh rendah, sorang petugas keamanan rumah segera membukanya. Bunyi klakson pun tidak lupa Rana nyalakan, tanda perpisahan dengan Bapak petugas keamanan. Rana bergegas meninggalkam tempat ia berpulang.<\/p>\n<p>\u201cPuas, kamu! Puas!\u201d gemuruh suara Ibu Rana, bagai deru ombak mengahantam karang. Ia memekik.<\/p>\n<p>Mata Ayah Rana melotot tajam, dadanya berdegup kencang.<\/p>\n<p>\u201cMati-matian aku kerja menghidupi kamu. Susah payah memberikan kehidupan layak untuk kamu. Dan ini balasannya?&#8230;&#8230;.\u201d Ayah Rana terdiam sejenak, \u201cTerlalu kamu, Ning!\u201d suaranya berat.<\/p>\n<p>\u201cOh, sekarang mengungkit,\u201d kedua tangan Ibu Rana di letakan dipinggang dengan tubuh yang melawan, \u201cBaik, aku akan menghidupi diriku sendiri. Tanpa bantuan sepserpun dari kamu. Biar gundik-gundikmu puas menikmati seluruh hartamu!\u201d<\/p>\n<p>\u201cCapek aku meladeni kamu!\u201d<\/p>\n<p>\u201cDan kamu tidak capek meladeni Gundik-Gundimu?\u201d<\/p>\n<p>Ayah Rana berlalu meninggalkan istrinya, masuk ke dalam rumah yang tidak lagi nyaman menjadi tempat pulang.<\/p>\n<p>\u201cAku akan buktikan!\u201d teriak Ibu Rana.<\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_302\" class=\"pvc_stats total_only  \" data-element-id=\"302\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" version=\"1.0\" viewBox=\"0 0 502 315\" preserveAspectRatio=\"xMidYMid meet\"><g transform=\"translate(0,332) scale(0.1,-0.1)\" fill=\"\" stroke=\"none\"><path d=\"M2394 3279 l-29 -30 -3 -207 c-2 -182 0 -211 15 -242 39 -76 157 -76 196 0 15 31 17 60 15 243 l-3 209 -33 29 c-26 23 -41 29 -80 29 -41 0 -53 -5 -78 -31z\"\/><path d=\"M3085 3251 c-45 -19 -58 -50 -96 -229 -47 -217 -49 -260 -13 -295 52 -53 146 -42 177 20 16 31 87 366 87 410 0 70 -86 122 -155 94z\"\/><path d=\"M1751 3234 c-13 -9 -29 -31 -37 -50 -12 -29 -10 -49 21 -204 19 -94 39 -189 45 -210 14 -50 54 -80 110 -80 34 0 48 6 76 34 21 21 34 44 34 59 0 14 -18 113 -40 219 -37 178 -43 195 -70 221 -36 32 -101 37 -139 11z\"\/><path d=\"M1163 3073 c-36 -7 -73 -59 -73 -102 0 -56 133 -378 171 -413 34 -32 83 -37 129 -13 70 36 67 87 -16 290 -86 209 -89 214 -129 231 -35 14 -42 15 -82 7z\"\/><path d=\"M3689 3066 c-15 -9 -33 -30 -42 -48 -48 -103 -147 -355 -147 -375 0 -98 131 -148 192 -74 13 15 57 108 97 206 80 196 84 226 37 273 -30 30 -99 39 -137 18z\"\/><path d=\"M583 2784 c-38 -19 -67 -74 -58 -113 9 -42 211 -354 242 -373 16 -10 45 -18 66 -18 51 0 107 52 107 100 0 39 -1 41 -124 234 -80 126 -108 162 -133 173 -41 17 -61 16 -100 -3z\"\/><path d=\"M4250 2784 c-14 -9 -74 -91 -133 -183 -95 -150 -107 -173 -107 -213 0 -55 33 -94 87 -104 67 -13 90 8 211 198 130 202 137 225 78 284 -27 27 -42 34 -72 34 -22 0 -50 -8 -64 -16z\"\/><path d=\"M2275 2693 c-553 -48 -1095 -270 -1585 -649 -135 -104 -459 -423 -483 -476 -23 -49 -22 -139 2 -186 73 -142 361 -457 571 -626 285 -228 642 -407 990 -497 242 -63 336 -73 660 -74 310 0 370 5 595 52 535 111 1045 392 1455 803 122 121 250 273 275 326 19 41 19 137 0 174 -41 79 -309 363 -465 492 -447 370 -946 591 -1479 653 -113 14 -422 18 -536 8z m395 -428 c171 -34 330 -124 456 -258 112 -119 167 -219 211 -378 27 -96 24 -300 -5 -401 -72 -255 -236 -447 -474 -557 -132 -62 -201 -76 -368 -76 -167 0 -236 14 -368 76 -213 98 -373 271 -451 485 -162 444 86 934 547 1084 153 49 292 57 452 25z m909 -232 c222 -123 408 -262 593 -441 76 -74 138 -139 138 -144 0 -16 -233 -242 -330 -319 -155 -123 -309 -223 -461 -299 l-81 -41 32 46 c18 26 49 83 70 128 143 306 141 649 -6 957 -25 52 -61 116 -79 142 l-34 47 45 -20 c26 -10 76 -36 113 -56z m-2057 25 c-40 -58 -105 -190 -130 -263 -110 -324 -59 -707 132 -981 25 -35 42 -64 37 -64 -19 0 -241 119 -326 174 -188 122 -406 314 -532 468 l-58 71 108 103 c185 178 428 349 672 473 66 33 121 60 123 61 2 0 -10 -19 -26 -42z\"\/><path d=\"M2375 1950 c-198 -44 -350 -190 -395 -379 -18 -76 -8 -221 19 -290 114 -284 457 -406 731 -260 98 52 188 154 231 260 27 69 37 214 19 290 -38 163 -166 304 -326 360 -67 23 -215 33 -279 19z\"\/><\/g><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Zarkasih Imam | 28\/09\/2025|Cirebon Rana hanya menyelami perasaannya, murung menutup diri dari hiruk pikuk kehidupan. Ia meratapi dari jengkal demi jengkal reka kejadian antara Ayah dan Ibunya. Rumah tempat ia berpulang kini seperti makam yang tak bertuan. Begitu angker dan menyeramkan, hampir setiap waktu ia mendengar jeritan, erangan dan suara-suara peralatan dapur yang mendarat bagai genderang perang. Suara-suara itu telah menggantikan gelak tawa dan kehangatan meja makan. \u201cKamu yang tidak becus mengurus rumah.\u201d Kalimat itu menembus dinding tembok kamar Rana dari umpatan Ayahnya kepada istrinya. Rana menutup rapat telinganya dengan buku yang tengah ia baca, seketika kakinya ia himpitkan kebadanya, rapat tak bercela. \u201cKamu pikir saya pembantu di rumah ini. Jawab! Semalam kamu tidur dimana?\u201d tegas Ibu Rana menanyakan suaminya. Rana semakin menekan buku itu ke telinganya. Bayang-bayang masa kecilnya melintas, mengitari kepalanya. Betapa bahagianya saat ia kecil memiliki kedua orang tua yang saling sayang, di malam yang dingin mereka saling menghangatkan, di meja makan saling suap, saat ibunya sedang menyiram tanaman, ayahnya dari belakang menjailinya. Gelak tawa saling menertawakan. &#8211; Tokoh Pemuda Losari Menanyakan Urgensi Pemekaran Cirebon Timur &#8211; Menunggu di Ujung Kata Aishiteru Saat diantara salah satunya sakit hati mereka tidak tentram, resah tak henti mengingtkan untuk segera minum obat. Tapi sekarang, mereka tidak beda jauh dengan orang tua lainya. Bertengkar, saling tuduh, saling mencari kesalahan, cerai dan ujung-ujungnya anak yang menjadi korban. Anak di titipkan kepada neneknya. \u201cJawab!\u201d layaknya sebuah tabrakan mobil yang menghantam trotoar, suara itu terdengar keras tanpa ampun. \u201cJangan diam saja!\u201d tegas ibu Rana. Suara yang menggelegar itu meracuni bayangan Rana. Ingatan indah itu seketika sirna tak tersisa. \u201cPercuma kalaupun aku menjawabnya, kamu tidak akan percaya!\u201d \u201cAaaaaaaagh,\u201d erangan dengan dua tangan yang mendarat bergantian, memukul-mukul dada pria yang tengah tertuduh itu, tanpa henti. Ayah Rana yang tidak kuasa merasakan perlakuan istrinya, ia meraih tangan istrinya dengan mata yang tajam. Sekuat tenaga ia mencoba menghentikan pukulan yang terus menerus mendarat di dadanya, \u201ccukup, sudah cukup!\u201d Ibu Rana\u00a0\u00a0 meronta \u201cLepas! Dasar bajingan,\u201d Umpat Ibu Rana, derai air matanya teramat deras. Pipi itu yang biasa meneriam ciuman dari suamainya kini kuyup oleh air matanya. Mendengar umpatan itu Ayah Rana langsung melemparkan kedua tangan istrinya dengan sekuat tenaga. \u201cPraaaaaaang!\u201d meja kaca yang tidak tahu menahu pecah dibuatnya, ibu Rana terpental menghantam meja kaca itu. \u201cCukuuuuup!\u201d teriak Rana menggema kesluruh ruangan. Kedua mata orang tua Rana terbelalak melihat anak semata wayang yang ia sayangi kini berteriak di hadapan mereka berdua. Ibu Rana bergegas bangun, dengan panik ia membersihkan baju yang penuh pecahan kaca dan langsung menghampiri Rana. \u201cSayang, tadi ibu tersandung dan jatuh menimpa meja itu,\u201d kedua tangan Ibu Rana meraih kedua pipi anaknya dengan mata yang berkaca-kaca. Rana menatap tajam, mata yang penuh amarah itu terus memandang ayahnya, sedang tubuhnya membeku. Melihat tatapan itu Ayah Rana menghampiri anaknya dan meraih tangannya. \u201cBetul apa yang dibilang Ibu, ini semua bukan seperti apa yang kamu pikirkan,\u201d Ayah Rana memelas, \u201coh, iya papa sudah bawakan makanan kesukaan kamu, sayang.\u201d Rana mengibaskan tangannya yang tengah dipegang oleh ayahnya. Ayah Rana memandangi tanganya yang terusir, alisnya meruncing, nafasnya terengah, tubuhnya lunglai. Sedang tangan kiri Rana mengehmpaskan kedua tangan ibunya menajuh dari pipinya. Tangan Ibunya mencoba kembali meraih pipi Rana, ia menagkisnya. Ibu Rana tidak bisa berbuat apa-apa hanya membeku dengan mata terbelalak. \u201cTidak usah lagi berpura-pura baik-baik saja,\u201d wanita muda yang berkulit putih langsat itu perlahan mengalirkan air matanya. Mendengar anaknya berkata demikian mereka seakan tersambar petir, matanya terbelalak, tubuhnya kaku, mulut yang sejak tadi seperti kicau burung mendadak saling terkunci. \u201cSelama ini Rana hanya diam saja mendengar pertengkaran ayah sama ibu, karna Rana percaya Ibu sama Ayah bisa melewati semua ini dan bisa menyelasaikannya. Tapi hari ini Rana kecewa dengan Kalian!\u201d Bibir Rana bergetar menahan amarahnya. \u201cSayang dengar ibu,\u201d ujar ibu Rana \u201cRana, Ran.\u201d Sambung ayah Rana. Tanpa kata Rana meninggalkan mereka berdua, masuk ke dalam kamar, membanting daun pintu yang terbuat dari kayu itu. Suaranya menggelagar membuat ayah dan ibunya kaget tak percaya. \u201cRan, Rana. Dengar Ibu sayang, buka pintunya.\u201d Rana tidak menggubris, Tas yang sedari tadi terdiam tidak lama berselang sudah berpindah tempat, dia atas kasur. Rana membanting tas itu dengan kesalnya. \u201cTok, tok, tok!\u201d terdengar suara pintu, \u201cSayang, ayah janji ini tidak bakal terulang lagi.\u201d \u201cDiam!, urus saja urusan kalian.\u201d Pekik Rana yang tengah sibuk mengemas bajunyan ke dalam tas. Buku yang tersusun rapih diatas rak buku, Rana memilah, sebuah buku filsafat \u201cDunia Shopie\u201d ia masukan ke dalam tas. Buku catatan sebesar buku tulis tak luput ia kemas, satu tempat dengan buku tersebut. Sebuah kamera Gopro dan Cannon D5000, pemeberian ayahnya saat ia mulai sekolah SMA pun menyertai barang lainya, tas sepanjang punggungya, sebesar badanya kini telah penuh. \u201cRana buka pintunya, sayang,\u201d pinta ayah Rana. \u201cSemua ini gara-gara kamu,\u201d pekik Ibu Rana ke arah suaminya. \u201cKok, kamu nyalahin aku. Kamu yang memulai duluan. Kalau saja kamu tidak curiga melulu semua ini tidak akan terjadi,\u201d jawab Ayah Rana tidak kalah. \u201cOooh,\u201d dua tangan Ibu Rana bertolak pinggang, dengan muka masam dan mata yang menyala, \u201cJadi aku harus percaya gtu aja. Kamu pikir aku wanita bodoh, seperti wanita-wanita lain yang kamu dekati. Hah! Begitu maksudmu!\u201d \u201cCukup!\u201d mata yang merah, bibir yang bergetar, memkik keras. \u201ccemburu butamu yang membuat anak kita berani bicara kasar&#8230;&#8230;&#8230;..\u201d \u201cBraaaaaag!\u201d suara daun pintu terbuka dengan kasar. \u201cKalian sama saja!\u201d ujar Rana dengan suara lantang dan berlalu meninggalkan mereka berdua. \u201cSayang kamu mau kemana?\u201d tanya Ibu Rana dengan lirih meraih tangan Rana. \u201cJika kamu marah pukul saja ayah, tapi kamu jangan pergi yah, sayang.\u201d Ayah Rana pun sama memelasnya. \u201cHarusnya dari dulu aku pukul, bukan Rana tapi aku yang akan memukul.\u201d Pekik Ibu Rana membalas ucapan suaminya. Tanpa kata Rana menghempaskan tangan Ibunya yang sedari tadi menggenggamnya dan langsung berlalu. &#8211; Absen Nomor 18 : Luna Raisa Putri &#8211; SMA N 1 Losari Gelar Pelatihan Jurnalistik: Menyalakan Api Literasi dari Kelas ke Kelas Ayah Rana segera mengejarnya dan memanggil-manggil nama anaknya, \u201cRana, Rana!\u201d\u00a0\u00a0 tangan Rana diraih oleh ayahnya, \u201ctunggu sebentar sayang,\u201d Ayah Rana menggambil dompet dari balik sakunya. \u201cini sayang. Buat bekal kamu,\u201d uang itu ia letakkan ditangan Rana, \u201cjangan lupa kabari ayah lokasi kamu,\u201d Dengan tangan yang bergetar Rana meremas uang yang diberikan ayahnya. Deraian air mata bertumpah ruah seperti hujan di bulan Desember. Segera Ayah Rana menyeka air mata yang tak jua berujung, membekas laksana kristal di pipi yang tiada habis ia cubit sewaktu kecil. Rana berlalalu membawa amarah bersama hati yang gundah seperti putus cinta dipengalaman pertama. Deru suara motor Cafe Racer memecah kehampaan hati Rana. Suaranya mengelegar meninggalkan pelataran rumah yang rindang di penuhi pepopohanan hias yang tertata rapih. Batu alam yang mengitari tiap tanaman menghidupkan suasana. Rumput jepang yang subur terhampar di samping jalan utama menuju rumah. Suara pintu gerbang berbunyi riuh rendah, sorang petugas keamanan rumah segera membukanya. Bunyi klakson pun tidak lupa Rana nyalakan, tanda perpisahan dengan Bapak petugas keamanan. Rana bergegas meninggalkam tempat ia berpulang. \u201cPuas, kamu! Puas!\u201d gemuruh suara Ibu Rana, bagai deru ombak mengahantam karang. Ia memekik. Mata Ayah Rana melotot tajam, dadanya berdegup kencang. \u201cMati-matian aku kerja menghidupi kamu. Susah payah memberikan kehidupan layak untuk kamu. Dan ini balasannya?&#8230;&#8230;.\u201d Ayah Rana terdiam sejenak, \u201cTerlalu kamu, Ning!\u201d suaranya berat. \u201cOh, sekarang mengungkit,\u201d kedua tangan Ibu Rana di letakan dipinggang dengan tubuh yang melawan, \u201cBaik, aku akan menghidupi diriku sendiri. Tanpa bantuan sepserpun dari kamu. Biar gundik-gundikmu puas menikmati seluruh hartamu!\u201d \u201cCapek aku meladeni kamu!\u201d \u201cDan kamu tidak capek meladeni Gundik-Gundimu?\u201d Ayah Rana berlalu meninggalkan istrinya, masuk ke dalam rumah yang tidak lagi nyaman menjadi tempat pulang. \u201cAku akan buktikan!\u201d teriak Ibu Rana.<\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_302\" class=\"pvc_stats total_only  \" data-element-id=\"302\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" version=\"1.0\" viewBox=\"0 0 502 315\" preserveAspectRatio=\"xMidYMid meet\"><g transform=\"translate(0,332) scale(0.1,-0.1)\" fill=\"\" stroke=\"none\"><path d=\"M2394 3279 l-29 -30 -3 -207 c-2 -182 0 -211 15 -242 39 -76 157 -76 196 0 15 31 17 60 15 243 l-3 209 -33 29 c-26 23 -41 29 -80 29 -41 0 -53 -5 -78 -31z\"\/><path d=\"M3085 3251 c-45 -19 -58 -50 -96 -229 -47 -217 -49 -260 -13 -295 52 -53 146 -42 177 20 16 31 87 366 87 410 0 70 -86 122 -155 94z\"\/><path d=\"M1751 3234 c-13 -9 -29 -31 -37 -50 -12 -29 -10 -49 21 -204 19 -94 39 -189 45 -210 14 -50 54 -80 110 -80 34 0 48 6 76 34 21 21 34 44 34 59 0 14 -18 113 -40 219 -37 178 -43 195 -70 221 -36 32 -101 37 -139 11z\"\/><path d=\"M1163 3073 c-36 -7 -73 -59 -73 -102 0 -56 133 -378 171 -413 34 -32 83 -37 129 -13 70 36 67 87 -16 290 -86 209 -89 214 -129 231 -35 14 -42 15 -82 7z\"\/><path d=\"M3689 3066 c-15 -9 -33 -30 -42 -48 -48 -103 -147 -355 -147 -375 0 -98 131 -148 192 -74 13 15 57 108 97 206 80 196 84 226 37 273 -30 30 -99 39 -137 18z\"\/><path d=\"M583 2784 c-38 -19 -67 -74 -58 -113 9 -42 211 -354 242 -373 16 -10 45 -18 66 -18 51 0 107 52 107 100 0 39 -1 41 -124 234 -80 126 -108 162 -133 173 -41 17 -61 16 -100 -3z\"\/><path d=\"M4250 2784 c-14 -9 -74 -91 -133 -183 -95 -150 -107 -173 -107 -213 0 -55 33 -94 87 -104 67 -13 90 8 211 198 130 202 137 225 78 284 -27 27 -42 34 -72 34 -22 0 -50 -8 -64 -16z\"\/><path d=\"M2275 2693 c-553 -48 -1095 -270 -1585 -649 -135 -104 -459 -423 -483 -476 -23 -49 -22 -139 2 -186 73 -142 361 -457 571 -626 285 -228 642 -407 990 -497 242 -63 336 -73 660 -74 310 0 370 5 595 52 535 111 1045 392 1455 803 122 121 250 273 275 326 19 41 19 137 0 174 -41 79 -309 363 -465 492 -447 370 -946 591 -1479 653 -113 14 -422 18 -536 8z m395 -428 c171 -34 330 -124 456 -258 112 -119 167 -219 211 -378 27 -96 24 -300 -5 -401 -72 -255 -236 -447 -474 -557 -132 -62 -201 -76 -368 -76 -167 0 -236 14 -368 76 -213 98 -373 271 -451 485 -162 444 86 934 547 1084 153 49 292 57 452 25z m909 -232 c222 -123 408 -262 593 -441 76 -74 138 -139 138 -144 0 -16 -233 -242 -330 -319 -155 -123 -309 -223 -461 -299 l-81 -41 32 46 c18 26 49 83 70 128 143 306 141 649 -6 957 -25 52 -61 116 -79 142 l-34 47 45 -20 c26 -10 76 -36 113 -56z m-2057 25 c-40 -58 -105 -190 -130 -263 -110 -324 -59 -707 132 -981 25 -35 42 -64 37 -64 -19 0 -241 119 -326 174 -188 122 -406 314 -532 468 l-58 71 108 103 c185 178 428 349 672 473 66 33 121 60 123 61 2 0 -10 -19 -26 -42z\"\/><path d=\"M2375 1950 c-198 -44 -350 -190 -395 -379 -18 -76 -8 -221 19 -290 114 -284 457 -406 731 -260 98 52 188 154 231 260 27 69 37 214 19 290 -38 163 -166 304 -326 360 -67 23 -215 33 -279 19z\"\/><\/g><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":304,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[23],"tags":[20,147,90,145,41,149,142,148,143,144,31,116,13,150,146],"class_list":["post-302","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita-rasa","tag-anak-muda","tag-artikelana","tag-artikelana-original","tag-broken-home","tag-budaya-membaca","tag-cerita-pendek","tag-cerpen","tag-cerpen-indonesia","tag-keluarga","tag-konflik-rumah-tangga","tag-perankecil","tag-pojok-baca-kalisari","tag-rasakita","tag-sastra","tag-zarkasih-imam"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Tempat Pulang Gadungan - Artikelana<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Cerpen \u201cTempat Pulang Gadungan\u201d menggambarkan luka rumah tangga, konflik orang tua, dan anak yang kehilangan arti rumah sebagai tempat pulang.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tempat Pulang Gadungan - Artikelana\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Cerpen \u201cTempat Pulang Gadungan\u201d menggambarkan luka rumah tangga, konflik orang tua, dan anak yang kehilangan arti rumah sebagai tempat pulang.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Artikelana\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-09-30T09:20:37+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-10-07T14:53:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Cerpen.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1536\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/09\\\/30\\\/tempat-pulang-gadungan\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/09\\\/30\\\/tempat-pulang-gadungan\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c3b8803a05994e4eec7fb6895c9067ea\"},\"headline\":\"Tempat Pulang Gadungan\",\"datePublished\":\"2025-09-30T09:20:37+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-07T14:53:55+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/09\\\/30\\\/tempat-pulang-gadungan\\\/\"},\"wordCount\":1209,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/09\\\/30\\\/tempat-pulang-gadungan\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/09\\\/Cerpen.webp\",\"keywords\":[\"Anak Muda\",\"Artikelana\",\"Artikelana Original\",\"Broken Home\",\"Budaya Membaca\",\"Cerita Pendek\",\"Cerpen\",\"Cerpen Indonesia\",\"Keluarga\",\"Konflik Rumah Tangga\",\"PeranKecil\",\"Pojok Baca Kalisari\",\"RasaKita\",\"Sastra\",\"Zarkasih Imam\"],\"articleSection\":[\"Cerita Rasa\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/09\\\/30\\\/tempat-pulang-gadungan\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/09\\\/30\\\/tempat-pulang-gadungan\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/09\\\/30\\\/tempat-pulang-gadungan\\\/\",\"name\":\"Tempat Pulang Gadungan - Artikelana\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/09\\\/30\\\/tempat-pulang-gadungan\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/09\\\/30\\\/tempat-pulang-gadungan\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/09\\\/Cerpen.webp\",\"datePublished\":\"2025-09-30T09:20:37+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-07T14:53:55+00:00\",\"description\":\"Cerpen \u201cTempat Pulang Gadungan\u201d menggambarkan luka rumah tangga, konflik orang tua, dan anak yang kehilangan arti rumah sebagai tempat pulang.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/09\\\/30\\\/tempat-pulang-gadungan\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/09\\\/30\\\/tempat-pulang-gadungan\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/09\\\/30\\\/tempat-pulang-gadungan\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/09\\\/Cerpen.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/09\\\/Cerpen.webp\",\"width\":1536,\"height\":1024},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/09\\\/30\\\/tempat-pulang-gadungan\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Tempat Pulang Gadungan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/\",\"name\":\"Artikelana\",\"description\":\"Cerita Tak Hanya Dibaca, Tapi Dirasa\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#organization\",\"name\":\"Artikelana\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/08\\\/cropped-artikelana-logo-scaled-1.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/08\\\/cropped-artikelana-logo-scaled-1.webp\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"Artikelana\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c3b8803a05994e4eec7fb6895c9067ea\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/artikelana.com\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/author\\\/admin\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tempat Pulang Gadungan - Artikelana","description":"Cerpen \u201cTempat Pulang Gadungan\u201d menggambarkan luka rumah tangga, konflik orang tua, dan anak yang kehilangan arti rumah sebagai tempat pulang.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Tempat Pulang Gadungan - Artikelana","og_description":"Cerpen \u201cTempat Pulang Gadungan\u201d menggambarkan luka rumah tangga, konflik orang tua, dan anak yang kehilangan arti rumah sebagai tempat pulang.","og_url":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/","og_site_name":"Artikelana","article_published_time":"2025-09-30T09:20:37+00:00","article_modified_time":"2025-10-07T14:53:55+00:00","og_image":[{"width":1536,"height":1024,"url":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Cerpen.webp","type":"image\/png"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin","Estimasi waktu membaca":"7 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#\/schema\/person\/c3b8803a05994e4eec7fb6895c9067ea"},"headline":"Tempat Pulang Gadungan","datePublished":"2025-09-30T09:20:37+00:00","dateModified":"2025-10-07T14:53:55+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/"},"wordCount":1209,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Cerpen.webp","keywords":["Anak Muda","Artikelana","Artikelana Original","Broken Home","Budaya Membaca","Cerita Pendek","Cerpen","Cerpen Indonesia","Keluarga","Konflik Rumah Tangga","PeranKecil","Pojok Baca Kalisari","RasaKita","Sastra","Zarkasih Imam"],"articleSection":["Cerita Rasa"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/","url":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/","name":"Tempat Pulang Gadungan - Artikelana","isPartOf":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Cerpen.webp","datePublished":"2025-09-30T09:20:37+00:00","dateModified":"2025-10-07T14:53:55+00:00","description":"Cerpen \u201cTempat Pulang Gadungan\u201d menggambarkan luka rumah tangga, konflik orang tua, dan anak yang kehilangan arti rumah sebagai tempat pulang.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/#primaryimage","url":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Cerpen.webp","contentUrl":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Cerpen.webp","width":1536,"height":1024},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/09\/30\/tempat-pulang-gadungan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/artikelana.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Tempat Pulang Gadungan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#website","url":"https:\/\/artikelana.com\/","name":"Artikelana","description":"Cerita Tak Hanya Dibaca, Tapi Dirasa","publisher":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/artikelana.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#organization","name":"Artikelana","url":"https:\/\/artikelana.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/cropped-artikelana-logo-scaled-1.webp","contentUrl":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/cropped-artikelana-logo-scaled-1.webp","width":512,"height":512,"caption":"Artikelana"},"image":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#\/schema\/person\/c3b8803a05994e4eec7fb6895c9067ea","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin"},"sameAs":["https:\/\/artikelana.com"],"url":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/author\/admin\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/302","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=302"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/302\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":308,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/302\/revisions\/308"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/304"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=302"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=302"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=302"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}