{"id":188,"date":"2025-07-28T03:29:24","date_gmt":"2025-07-28T03:29:24","guid":{"rendered":"https:\/\/artikelana.com\/?p=188"},"modified":"2025-07-28T03:29:24","modified_gmt":"2025-07-28T03:29:24","slug":"pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/","title":{"rendered":"Pendidikan Kita: Makin Kesini, Makin Kesana"},"content":{"rendered":"<blockquote><p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Oleh : Ian | 26 Juli 2025<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">&#8220;<em>Jika pendidikan dibangun di atas pasar, maka murid menjadi konsumen, guru menjadi tenaga jasa, dan sekolah menjadi etalase produk<\/em>.&#8221;<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Dunia pendidikan kita sedang kebingungan arah. Makin kesini, makin kesana. Seolah sedang berjalan, tapi tanpa peta. Satu-dua langkah memang terasa progresif, tapi banyak pula langkah yang justru membingungkan.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Sekolah: Dari Lembaga Pendidikan ke Etalase Konsumtif<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Dulu, sekolah adalah ruang belajar. Hari ini, sekolah lebih mirip toko swalayan. Mulai dari bentuk bangunan, branding media sosial, hingga konten video yang dibuat guru dan murid, semua diarahkan untuk satu tujuan: menarik minat \u201ckonsumen\u201d\u2014alias calon siswa dan orang tuanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Promosi menjadi segalanya. Kelas-kelas yang tak punya fasilitas tetap dipoles secara digital. Program ekstrakurikuler dikemas seperti paket liburan. Guru-guru berlomba membuat konten, bukan untuk memperdalam ilmu, melainkan agar algoritma media sosial mengangkat nama sekolah mereka.<\/span><br \/>\n<span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Ketika pendidikan tunduk pada logika pasar, maka nilai pendidikan pun ikut dikomodifikasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Dan inilah yang menyedihkan: kompetisi antar sekolah bukan lagi soal kualitas pendidikan, tapi soal performa marketing.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Pasar Pendidikan dan Tekanan Gimmick<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Sektor pendidikan hari ini diatur oleh dinamika demand &amp; supply. Semakin banyak sekolah, semakin sengit kompetisi. Terutama sekolah swasta dan sekolah negeri \u201cunggulan\u201d yang harus terus mendapat murid agar tetap eksis. Maka muncullah strategi-strategi promosi yang tak jarang melewati batas: dari diskon biaya masuk, pemberian hadiah, hingga video TikTok guru dengan jargon-jargon lucu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Apakah ini salah? Tidak semata-mata. Tapi ketika strategi pasar menggantikan orientasi nilai, maka kita kehilangan prinsip. Pendidikan bukan lagi proses, tapi produk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Dan guru? Mereka jadi \u201ckaryawan\u201d dalam sistem ini. Mereka didorong untuk kreatif, tapi hanya dalam bingkai \u201cbranding\u201d. Mereka diminta aktif di medsos, bukan karena pedagogis tapi karena \u201crekrutmen siswa butuh exposure\u201d.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Krisis Guru dan Kegagalan Sistem Produksi Pendidik<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Di tengah semua ini, kita menghadapi krisis pendidik. Bukan karena guru tidak mau mengajar, tapi karena banyak dari mereka memang tidak pernah dipersiapkan untuk itu. Kampus pencetak guru gagal membekali lulusannya dengan kompetensi substantif. Praktik mengajar formalitas. Penguasaan literasi pedagogis rendah. Seleksi masuk longgar. Proses pendidikan dangkal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Kita mencetak guru seperti mencetak produk cepat saji\u2014asal jadi, asal lulus, asal dapat gelar S.Pd\/S.Pd.I. Maka tak heran jika begitu mereka masuk ke sekolah, banyak dari mereka lebih percaya diri bikin konten dari pada mengajar. Karena dunia nyata tak pernah mereka hadapi selama kuliah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Ironisnya, negara tahu ini. Tapi sistem dibiarkan berjalan. Karena kampus juga butuh mahasiswa untuk bertahan hidup. Dan ketika pendidikan guru tunduk pada pasar, maka guru bukan lagi profesi suci, melainkan pekerjaan kompromi.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Antara Zaman Dulu dan Sekarang: Apa yang Hilang?<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Zaman dulu, guru adalah tokoh masyarakat. Dihormati karena ilmunya, diteladani karena sikapnya. Bahkan seorang guru yang hidup sederhana tetap dipandang tinggi karena integritas dan peran sosialnya.<\/span><br \/>\n<span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Hari ini, status sosial guru makin luntur. Apalagi guru honorer yang digaji rendah, dibebani tugas administratif, dan masih dituntut jadi \u201cinfluencer\u201d sekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Bukan karena mereka berubah, tapi karena sistem memaksa mereka berubah. Zaman berubah, iya. Tapi perubahan tidak boleh berarti kehilangan esensi. Guru tetap harus menjadi sumber nilai, bukan sekadar sumber daya.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Penutup: Menyusun Ulang Arah,<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Pendidikan kita sedang kacau bukan karena guru berjoget di TikTok, tapi karena sistem pendidikan yang membingungkan<\/span><br \/>\n<span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Ini bukan soal etika konten semata, tapi soal kegagalan kita membangun ekosistem pendidikan yang menghargai pendidik sebagai penggerak peradaban, bukan sebagai penghibur algoritma.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Maka, kalau kita ingin menyelamatkan pendidikan, kita harus mulai dari hulu: Reformasi besar-besaran kampus pencetak guru: seleksi ketat, kurikulum bermakna, praktik mengajar riil, dan pengawasan ketat mutu dosen. Perlindungan dan penguatan profesi guru: pelatihan yang relevan, perlakuan adil, dan ruang inovasi berbasis nilai. Redefinisi sekolah: bukan sebagai etalase produk, tapi sebagai ruang hidup yang membangun manusia utuh. Negara hadir bukan hanya sebagai regulator PPDB, tapi sebagai penjaga nilai pendidikan.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Jika hari ini guru lebih sibuk membuat konten daripada membangun karakter murid, maka kita harus bertanya:<\/span><br \/>\n<span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\"><em>Siapa yang mengubah pendidikan menjadi panggung hiburan?<\/em><\/span><br \/>\n<span style=\"font-family: 'Times New Roman', Times; font-size: 14pt;\">Dan lebih penting lagi: <em>Apakah kita akan terus membiarkannya?<\/em><\/span><\/p><\/blockquote>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_188\" class=\"pvc_stats total_only  \" data-element-id=\"188\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" version=\"1.0\" viewBox=\"0 0 502 315\" preserveAspectRatio=\"xMidYMid meet\"><g transform=\"translate(0,332) scale(0.1,-0.1)\" fill=\"\" stroke=\"none\"><path d=\"M2394 3279 l-29 -30 -3 -207 c-2 -182 0 -211 15 -242 39 -76 157 -76 196 0 15 31 17 60 15 243 l-3 209 -33 29 c-26 23 -41 29 -80 29 -41 0 -53 -5 -78 -31z\"\/><path d=\"M3085 3251 c-45 -19 -58 -50 -96 -229 -47 -217 -49 -260 -13 -295 52 -53 146 -42 177 20 16 31 87 366 87 410 0 70 -86 122 -155 94z\"\/><path d=\"M1751 3234 c-13 -9 -29 -31 -37 -50 -12 -29 -10 -49 21 -204 19 -94 39 -189 45 -210 14 -50 54 -80 110 -80 34 0 48 6 76 34 21 21 34 44 34 59 0 14 -18 113 -40 219 -37 178 -43 195 -70 221 -36 32 -101 37 -139 11z\"\/><path d=\"M1163 3073 c-36 -7 -73 -59 -73 -102 0 -56 133 -378 171 -413 34 -32 83 -37 129 -13 70 36 67 87 -16 290 -86 209 -89 214 -129 231 -35 14 -42 15 -82 7z\"\/><path d=\"M3689 3066 c-15 -9 -33 -30 -42 -48 -48 -103 -147 -355 -147 -375 0 -98 131 -148 192 -74 13 15 57 108 97 206 80 196 84 226 37 273 -30 30 -99 39 -137 18z\"\/><path d=\"M583 2784 c-38 -19 -67 -74 -58 -113 9 -42 211 -354 242 -373 16 -10 45 -18 66 -18 51 0 107 52 107 100 0 39 -1 41 -124 234 -80 126 -108 162 -133 173 -41 17 -61 16 -100 -3z\"\/><path d=\"M4250 2784 c-14 -9 -74 -91 -133 -183 -95 -150 -107 -173 -107 -213 0 -55 33 -94 87 -104 67 -13 90 8 211 198 130 202 137 225 78 284 -27 27 -42 34 -72 34 -22 0 -50 -8 -64 -16z\"\/><path d=\"M2275 2693 c-553 -48 -1095 -270 -1585 -649 -135 -104 -459 -423 -483 -476 -23 -49 -22 -139 2 -186 73 -142 361 -457 571 -626 285 -228 642 -407 990 -497 242 -63 336 -73 660 -74 310 0 370 5 595 52 535 111 1045 392 1455 803 122 121 250 273 275 326 19 41 19 137 0 174 -41 79 -309 363 -465 492 -447 370 -946 591 -1479 653 -113 14 -422 18 -536 8z m395 -428 c171 -34 330 -124 456 -258 112 -119 167 -219 211 -378 27 -96 24 -300 -5 -401 -72 -255 -236 -447 -474 -557 -132 -62 -201 -76 -368 -76 -167 0 -236 14 -368 76 -213 98 -373 271 -451 485 -162 444 86 934 547 1084 153 49 292 57 452 25z m909 -232 c222 -123 408 -262 593 -441 76 -74 138 -139 138 -144 0 -16 -233 -242 -330 -319 -155 -123 -309 -223 -461 -299 l-81 -41 32 46 c18 26 49 83 70 128 143 306 141 649 -6 957 -25 52 -61 116 -79 142 l-34 47 45 -20 c26 -10 76 -36 113 -56z m-2057 25 c-40 -58 -105 -190 -130 -263 -110 -324 -59 -707 132 -981 25 -35 42 -64 37 -64 -19 0 -241 119 -326 174 -188 122 -406 314 -532 468 l-58 71 108 103 c185 178 428 349 672 473 66 33 121 60 123 61 2 0 -10 -19 -26 -42z\"\/><path d=\"M2375 1950 c-198 -44 -350 -190 -395 -379 -18 -76 -8 -221 19 -290 114 -284 457 -406 731 -260 98 52 188 154 231 260 27 69 37 214 19 290 -38 163 -166 304 -326 360 -67 23 -215 33 -279 19z\"\/><\/g><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Ian | 26 Juli 2025 &#8220;Jika pendidikan dibangun di atas pasar, maka murid menjadi konsumen, guru menjadi tenaga jasa, dan sekolah menjadi etalase produk.&#8221; Dunia pendidikan kita sedang kebingungan arah. Makin kesini, makin kesana. Seolah sedang berjalan, tapi tanpa peta. Satu-dua langkah memang terasa progresif, tapi banyak pula langkah yang justru membingungkan. Sekolah: Dari Lembaga Pendidikan ke Etalase Konsumtif Dulu, sekolah adalah ruang belajar. Hari ini, sekolah lebih mirip toko swalayan. Mulai dari bentuk bangunan, branding media sosial, hingga konten video yang dibuat guru dan murid, semua diarahkan untuk satu tujuan: menarik minat \u201ckonsumen\u201d\u2014alias calon siswa dan orang tuanya. Promosi menjadi segalanya. Kelas-kelas yang tak punya fasilitas tetap dipoles secara digital. Program ekstrakurikuler dikemas seperti paket liburan. Guru-guru berlomba membuat konten, bukan untuk memperdalam ilmu, melainkan agar algoritma media sosial mengangkat nama sekolah mereka. Ketika pendidikan tunduk pada logika pasar, maka nilai pendidikan pun ikut dikomodifikasi. Dan inilah yang menyedihkan: kompetisi antar sekolah bukan lagi soal kualitas pendidikan, tapi soal performa marketing. Pasar Pendidikan dan Tekanan Gimmick Sektor pendidikan hari ini diatur oleh dinamika demand &amp; supply. Semakin banyak sekolah, semakin sengit kompetisi. Terutama sekolah swasta dan sekolah negeri \u201cunggulan\u201d yang harus terus mendapat murid agar tetap eksis. Maka muncullah strategi-strategi promosi yang tak jarang melewati batas: dari diskon biaya masuk, pemberian hadiah, hingga video TikTok guru dengan jargon-jargon lucu. Apakah ini salah? Tidak semata-mata. Tapi ketika strategi pasar menggantikan orientasi nilai, maka kita kehilangan prinsip. Pendidikan bukan lagi proses, tapi produk. Dan guru? Mereka jadi \u201ckaryawan\u201d dalam sistem ini. Mereka didorong untuk kreatif, tapi hanya dalam bingkai \u201cbranding\u201d. Mereka diminta aktif di medsos, bukan karena pedagogis tapi karena \u201crekrutmen siswa butuh exposure\u201d. Krisis Guru dan Kegagalan Sistem Produksi Pendidik Di tengah semua ini, kita menghadapi krisis pendidik. Bukan karena guru tidak mau mengajar, tapi karena banyak dari mereka memang tidak pernah dipersiapkan untuk itu. Kampus pencetak guru gagal membekali lulusannya dengan kompetensi substantif. Praktik mengajar formalitas. Penguasaan literasi pedagogis rendah. Seleksi masuk longgar. Proses pendidikan dangkal. Kita mencetak guru seperti mencetak produk cepat saji\u2014asal jadi, asal lulus, asal dapat gelar S.Pd\/S.Pd.I. Maka tak heran jika begitu mereka masuk ke sekolah, banyak dari mereka lebih percaya diri bikin konten dari pada mengajar. Karena dunia nyata tak pernah mereka hadapi selama kuliah. Ironisnya, negara tahu ini. Tapi sistem dibiarkan berjalan. Karena kampus juga butuh mahasiswa untuk bertahan hidup. Dan ketika pendidikan guru tunduk pada pasar, maka guru bukan lagi profesi suci, melainkan pekerjaan kompromi. Antara Zaman Dulu dan Sekarang: Apa yang Hilang? Zaman dulu, guru adalah tokoh masyarakat. Dihormati karena ilmunya, diteladani karena sikapnya. Bahkan seorang guru yang hidup sederhana tetap dipandang tinggi karena integritas dan peran sosialnya. Hari ini, status sosial guru makin luntur. Apalagi guru honorer yang digaji rendah, dibebani tugas administratif, dan masih dituntut jadi \u201cinfluencer\u201d sekolah. Bukan karena mereka berubah, tapi karena sistem memaksa mereka berubah. Zaman berubah, iya. Tapi perubahan tidak boleh berarti kehilangan esensi. Guru tetap harus menjadi sumber nilai, bukan sekadar sumber daya. Penutup: Menyusun Ulang Arah, Pendidikan kita sedang kacau bukan karena guru berjoget di TikTok, tapi karena sistem pendidikan yang membingungkan Ini bukan soal etika konten semata, tapi soal kegagalan kita membangun ekosistem pendidikan yang menghargai pendidik sebagai penggerak peradaban, bukan sebagai penghibur algoritma. Maka, kalau kita ingin menyelamatkan pendidikan, kita harus mulai dari hulu: Reformasi besar-besaran kampus pencetak guru: seleksi ketat, kurikulum bermakna, praktik mengajar riil, dan pengawasan ketat mutu dosen. Perlindungan dan penguatan profesi guru: pelatihan yang relevan, perlakuan adil, dan ruang inovasi berbasis nilai. Redefinisi sekolah: bukan sebagai etalase produk, tapi sebagai ruang hidup yang membangun manusia utuh. Negara hadir bukan hanya sebagai regulator PPDB, tapi sebagai penjaga nilai pendidikan. Jika hari ini guru lebih sibuk membuat konten daripada membangun karakter murid, maka kita harus bertanya: Siapa yang mengubah pendidikan menjadi panggung hiburan? Dan lebih penting lagi: Apakah kita akan terus membiarkannya?<\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_188\" class=\"pvc_stats total_only  \" data-element-id=\"188\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" version=\"1.0\" viewBox=\"0 0 502 315\" preserveAspectRatio=\"xMidYMid meet\"><g transform=\"translate(0,332) scale(0.1,-0.1)\" fill=\"\" stroke=\"none\"><path d=\"M2394 3279 l-29 -30 -3 -207 c-2 -182 0 -211 15 -242 39 -76 157 -76 196 0 15 31 17 60 15 243 l-3 209 -33 29 c-26 23 -41 29 -80 29 -41 0 -53 -5 -78 -31z\"\/><path d=\"M3085 3251 c-45 -19 -58 -50 -96 -229 -47 -217 -49 -260 -13 -295 52 -53 146 -42 177 20 16 31 87 366 87 410 0 70 -86 122 -155 94z\"\/><path d=\"M1751 3234 c-13 -9 -29 -31 -37 -50 -12 -29 -10 -49 21 -204 19 -94 39 -189 45 -210 14 -50 54 -80 110 -80 34 0 48 6 76 34 21 21 34 44 34 59 0 14 -18 113 -40 219 -37 178 -43 195 -70 221 -36 32 -101 37 -139 11z\"\/><path d=\"M1163 3073 c-36 -7 -73 -59 -73 -102 0 -56 133 -378 171 -413 34 -32 83 -37 129 -13 70 36 67 87 -16 290 -86 209 -89 214 -129 231 -35 14 -42 15 -82 7z\"\/><path d=\"M3689 3066 c-15 -9 -33 -30 -42 -48 -48 -103 -147 -355 -147 -375 0 -98 131 -148 192 -74 13 15 57 108 97 206 80 196 84 226 37 273 -30 30 -99 39 -137 18z\"\/><path d=\"M583 2784 c-38 -19 -67 -74 -58 -113 9 -42 211 -354 242 -373 16 -10 45 -18 66 -18 51 0 107 52 107 100 0 39 -1 41 -124 234 -80 126 -108 162 -133 173 -41 17 -61 16 -100 -3z\"\/><path d=\"M4250 2784 c-14 -9 -74 -91 -133 -183 -95 -150 -107 -173 -107 -213 0 -55 33 -94 87 -104 67 -13 90 8 211 198 130 202 137 225 78 284 -27 27 -42 34 -72 34 -22 0 -50 -8 -64 -16z\"\/><path d=\"M2275 2693 c-553 -48 -1095 -270 -1585 -649 -135 -104 -459 -423 -483 -476 -23 -49 -22 -139 2 -186 73 -142 361 -457 571 -626 285 -228 642 -407 990 -497 242 -63 336 -73 660 -74 310 0 370 5 595 52 535 111 1045 392 1455 803 122 121 250 273 275 326 19 41 19 137 0 174 -41 79 -309 363 -465 492 -447 370 -946 591 -1479 653 -113 14 -422 18 -536 8z m395 -428 c171 -34 330 -124 456 -258 112 -119 167 -219 211 -378 27 -96 24 -300 -5 -401 -72 -255 -236 -447 -474 -557 -132 -62 -201 -76 -368 -76 -167 0 -236 14 -368 76 -213 98 -373 271 -451 485 -162 444 86 934 547 1084 153 49 292 57 452 25z m909 -232 c222 -123 408 -262 593 -441 76 -74 138 -139 138 -144 0 -16 -233 -242 -330 -319 -155 -123 -309 -223 -461 -299 l-81 -41 32 46 c18 26 49 83 70 128 143 306 141 649 -6 957 -25 52 -61 116 -79 142 l-34 47 45 -20 c26 -10 76 -36 113 -56z m-2057 25 c-40 -58 -105 -190 -130 -263 -110 -324 -59 -707 132 -981 25 -35 42 -64 37 -64 -19 0 -241 119 -326 174 -188 122 -406 314 -532 468 l-58 71 108 103 c185 178 428 349 672 473 66 33 121 60 123 61 2 0 -10 -19 -26 -42z\"\/><path d=\"M2375 1950 c-198 -44 -350 -190 -395 -379 -18 -76 -8 -221 19 -290 114 -284 457 -406 731 -260 98 52 188 154 231 260 27 69 37 214 19 290 -38 163 -166 304 -326 360 -67 23 -215 33 -279 19z\"\/><\/g><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":189,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"googlesitekit_rrm_CAowhNW8DA:productID":"","footnotes":""},"categories":[12],"tags":[55,74,30,60,40,71,76,59,68,58,62,65,64,73,67,61,72,70,77,13,66,75,63,69,21],"class_list":["post-188","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-rasa-kita","tag-literasisekolah","tag-dunia-pendidikan-krisis-arah","tag-esaiopini","tag-guru-dan-media-sosial","tag-guru-dan-murid","tag-guru-influencer","tag-honorer-dan-eksploitasi-guru","tag-kapitalisasi-pendidikan","tag-konten-edukasi-atau-gimik","tag-krisis-pendidikan","tag-kritik-dunia-pendidikan","tag-kualitas-guru","tag-pasar-pendidikan","tag-pendidikan-dan-kapitalisme","tag-pendidikan-dan-pasar","tag-pendidikan-indonesia","tag-pendidikan-vs-algoritma","tag-pendidikan-zaman-sekarang","tag-ppdb-dan-marketing-sekolah","tag-rasakita","tag-reformasi-lptk","tag-sekolah-sebagai-branding","tag-sekolah-sebagai-etalase","tag-sistem-pendidikan-gagal","tag-tugas-kuliah"],"a3_pvc":{"activated":true,"total_views":29,"today_views":0},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Pendidikan Kita: Makin Kesini, Makin Kesana - Artikelana<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Pendidikan Indonesia makin kehilangan arah. Sekolah berubah jadi etalase, guru sibuk membuat konten demi PPDB, sementara kualitas pendidik kian tergerus oleh sistem pasar. Apa yang salah dan bagaimana menyelamatkannya?\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pendidikan Kita: Makin Kesini, Makin Kesana - Artikelana\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pendidikan Indonesia makin kehilangan arah. Sekolah berubah jadi etalase, guru sibuk membuat konten demi PPDB, sementara kualitas pendidik kian tergerus oleh sistem pasar. Apa yang salah dan bagaimana menyelamatkannya?\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Artikelana\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-07-28T03:29:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Artikelana-Kritik-Pendidikan.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1536\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/28\\\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/28\\\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c3b8803a05994e4eec7fb6895c9067ea\"},\"headline\":\"Pendidikan Kita: Makin Kesini, Makin Kesana\",\"datePublished\":\"2025-07-28T03:29:24+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/28\\\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\\\/\"},\"wordCount\":643,\"commentCount\":1,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/28\\\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/Artikelana-Kritik-Pendidikan.webp\",\"keywords\":[\"#LiterasiSekolah\",\"Dunia Pendidikan Krisis Arah\",\"EsaiOpini\",\"Guru dan Media Sosial\",\"Guru dan Murid\",\"Guru Influencer\",\"Honorer dan Eksploitasi Guru\",\"Kapitalisasi Pendidikan\",\"Konten Edukasi atau Gimik?\",\"Krisis Pendidikan\",\"Kritik Dunia Pendidikan\",\"Kualitas Guru\",\"Pasar Pendidikan\",\"Pendidikan dan Kapitalisme\",\"Pendidikan dan Pasar\",\"Pendidikan Indonesia\",\"Pendidikan vs Algoritma\",\"Pendidikan Zaman Sekarang\",\"PPDB dan Marketing Sekolah\",\"RasaKita\",\"Reformasi LPTK\",\"Sekolah Sebagai Branding\",\"Sekolah sebagai Etalase\",\"Sistem Pendidikan Gagal\",\"Tugas Kuliah\"],\"articleSection\":[\"Rasa Kita\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/28\\\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/28\\\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/28\\\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\\\/\",\"name\":\"Pendidikan Kita: Makin Kesini, Makin Kesana - Artikelana\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/28\\\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/28\\\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/Artikelana-Kritik-Pendidikan.webp\",\"datePublished\":\"2025-07-28T03:29:24+00:00\",\"description\":\"Pendidikan Indonesia makin kehilangan arah. Sekolah berubah jadi etalase, guru sibuk membuat konten demi PPDB, sementara kualitas pendidik kian tergerus oleh sistem pasar. Apa yang salah dan bagaimana menyelamatkannya?\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/28\\\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/28\\\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/28\\\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/Artikelana-Kritik-Pendidikan.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/Artikelana-Kritik-Pendidikan.webp\",\"width\":1536,\"height\":1024},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/28\\\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pendidikan Kita: Makin Kesini, Makin Kesana\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/\",\"name\":\"Artikelana\",\"description\":\"Cerita Tak Hanya Dibaca, Tapi Dirasa\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#organization\",\"name\":\"Artikelana\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/08\\\/cropped-artikelana-logo-scaled-1.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/08\\\/cropped-artikelana-logo-scaled-1.webp\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"Artikelana\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c3b8803a05994e4eec7fb6895c9067ea\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/artikelana.com\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/author\\\/admin\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pendidikan Kita: Makin Kesini, Makin Kesana - Artikelana","description":"Pendidikan Indonesia makin kehilangan arah. Sekolah berubah jadi etalase, guru sibuk membuat konten demi PPDB, sementara kualitas pendidik kian tergerus oleh sistem pasar. Apa yang salah dan bagaimana menyelamatkannya?","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Pendidikan Kita: Makin Kesini, Makin Kesana - Artikelana","og_description":"Pendidikan Indonesia makin kehilangan arah. Sekolah berubah jadi etalase, guru sibuk membuat konten demi PPDB, sementara kualitas pendidik kian tergerus oleh sistem pasar. Apa yang salah dan bagaimana menyelamatkannya?","og_url":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/","og_site_name":"Artikelana","article_published_time":"2025-07-28T03:29:24+00:00","og_image":[{"width":1536,"height":1024,"url":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Artikelana-Kritik-Pendidikan.webp","type":"image\/png"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#\/schema\/person\/c3b8803a05994e4eec7fb6895c9067ea"},"headline":"Pendidikan Kita: Makin Kesini, Makin Kesana","datePublished":"2025-07-28T03:29:24+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/"},"wordCount":643,"commentCount":1,"publisher":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Artikelana-Kritik-Pendidikan.webp","keywords":["#LiterasiSekolah","Dunia Pendidikan Krisis Arah","EsaiOpini","Guru dan Media Sosial","Guru dan Murid","Guru Influencer","Honorer dan Eksploitasi Guru","Kapitalisasi Pendidikan","Konten Edukasi atau Gimik?","Krisis Pendidikan","Kritik Dunia Pendidikan","Kualitas Guru","Pasar Pendidikan","Pendidikan dan Kapitalisme","Pendidikan dan Pasar","Pendidikan Indonesia","Pendidikan vs Algoritma","Pendidikan Zaman Sekarang","PPDB dan Marketing Sekolah","RasaKita","Reformasi LPTK","Sekolah Sebagai Branding","Sekolah sebagai Etalase","Sistem Pendidikan Gagal","Tugas Kuliah"],"articleSection":["Rasa Kita"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/","url":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/","name":"Pendidikan Kita: Makin Kesini, Makin Kesana - Artikelana","isPartOf":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Artikelana-Kritik-Pendidikan.webp","datePublished":"2025-07-28T03:29:24+00:00","description":"Pendidikan Indonesia makin kehilangan arah. Sekolah berubah jadi etalase, guru sibuk membuat konten demi PPDB, sementara kualitas pendidik kian tergerus oleh sistem pasar. Apa yang salah dan bagaimana menyelamatkannya?","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/#primaryimage","url":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Artikelana-Kritik-Pendidikan.webp","contentUrl":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Artikelana-Kritik-Pendidikan.webp","width":1536,"height":1024},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/28\/pendidikan-kita-makin-kesini-makin-kesana\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/artikelana.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pendidikan Kita: Makin Kesini, Makin Kesana"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#website","url":"https:\/\/artikelana.com\/","name":"Artikelana","description":"Cerita Tak Hanya Dibaca, Tapi Dirasa","publisher":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/artikelana.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#organization","name":"Artikelana","url":"https:\/\/artikelana.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/cropped-artikelana-logo-scaled-1.webp","contentUrl":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/cropped-artikelana-logo-scaled-1.webp","width":512,"height":512,"caption":"Artikelana"},"image":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#\/schema\/person\/c3b8803a05994e4eec7fb6895c9067ea","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin"},"sameAs":["https:\/\/artikelana.com"],"url":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/author\/admin\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/188","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=188"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/188\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":194,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/188\/revisions\/194"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/189"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=188"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=188"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=188"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}