{"id":177,"date":"2025-07-18T07:32:08","date_gmt":"2025-07-18T07:32:08","guid":{"rendered":"https:\/\/artikelana.com\/?p=177"},"modified":"2025-07-18T07:32:08","modified_gmt":"2025-07-18T07:32:08","slug":"absen-nomor-18-luna-raisa-putri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/","title":{"rendered":"Absen Nomor 18 : Luna Raisa Putri"},"content":{"rendered":"<blockquote><p><em data-start=\"434\" data-end=\"516\">Cerita tentang seseorang yang selalu hadir, tapi tak pernah benar-benar dilihat.<\/em><br data-start=\"516\" data-end=\"519\" \/>Cerpen oleh: Qi2 &amp; Rasa | 18 Juli 2025<\/p><\/blockquote>\n<p data-start=\"580\" data-end=\"612\">Ada kertas putih di laci mejaku.\u00a0 Sudah lama aku simpan. Dilipat rapi. Tidak pernah kubuka.<\/p>\n<p data-start=\"673\" data-end=\"860\">Padahal, itu mungkin hal terakhir yang pernah ditinggalkan seseorang di kursi belakang.<br data-start=\"760\" data-end=\"763\" \/>Tapi entah kenapa, aku takut tahu isinya. Takut kalau isinya biasa saja.\u00a0 Atau\u2026 terlalu nyata.<\/p>\n<p data-start=\"862\" data-end=\"1053\">Orang-orang bilang hari kelulusan adalah hari kebebasan. Tapi buatku, hari itu adalah hari paling sunyi.<br data-start=\"968\" data-end=\"971\" \/>Karena saat aku akhirnya menoleh untuk menyapa dia <strong data-start=\"1025\" data-end=\"1053\">Lintang sudah tidak ada.<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"1060\" data-end=\"1357\">Kadang aku bertanya:<br data-start=\"1080\" data-end=\"1083\" \/>Kalau saja aku bicara lebih dulu, apakah segalanya akan berbeda?<br data-start=\"1147\" data-end=\"1150\" \/>Kalau saja aku memberanikan diri satu minggu lebih cepat, satu hari lebih awal, satu detik lebih berani\u2014<br data-start=\"1254\" data-end=\"1257\" \/>apakah dia masih akan duduk di sana\u2026<br data-start=\"1293\" data-end=\"1296\" \/>atau tetap memilih pergi diam-diam seperti pagi terakhir itu?<\/p>\n<p data-start=\"1359\" data-end=\"1423\">Cerita ini bukan tentang cinta.<br data-start=\"1390\" data-end=\"1393\" \/>Bukan juga tentang kehilangan.<\/p>\n<p data-start=\"1425\" data-end=\"1545\">Ini tentang seseorang yang duduk satu baris dariku. tapi rasanya seperti duduk di dunia yang tak pernah bisa kusentuh.<\/p>\n<p data-start=\"1552\" data-end=\"1710\">Ini cerita dari baris ketiga, bangku ke kiri.<br data-start=\"1597\" data-end=\"1600\" \/>Dari sudut pandang yang (mungkin) tidak pernah benar-benar ia lirik.<br data-start=\"1668\" data-end=\"1671\" \/>Tapi selalu memperhatikannya diam-diam.<\/p>\n<blockquote>\n<p data-start=\"1712\" data-end=\"1825\"><strong data-start=\"1712\" data-end=\"1825\">Aku.<br data-start=\"1718\" data-end=\"1721\" \/>Lana Raisya Putri.<br data-start=\"1739\" data-end=\"1742\" \/>Absen nomor 17.<br data-start=\"1757\" data-end=\"1760\" \/>Satu angka sebelum seseorang yang tak pernah benar-benar Absen.<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n<h3><em><strong>Bagian I: Aku yang Duduk di Sebelahnya<\/strong><\/em><\/h3>\n<p>Kalau kamu tanya di mana tempat favoritku di kelas, aku akan bilang: baris ketiga dari kiri, dua kursi dari jendela.<\/p>\n<p>Tempat itu tidak terlalu depan, tidak juga terlalu belakang.<br \/>\nCukup strategis untuk menyembunyikan diri, tapi masih bisa terlihat kalau sedang berusaha keras.<br \/>\nDan dari situ, aku bisa melihat semuanya.<br \/>\nTermasuk dia.<\/p>\n<p>Lintang.<br \/>\nAbsen nomor 18.<br \/>\nPojok kanan belakang.<br \/>\nTempat cahaya pagi datang lebih dulu, tapi sering terhalang punggung teman-temannya.<\/p>\n<p>&#8220;Alya, kamu udah ngerjain tugasnya Bu Winda belum?&#8221; bisikku pelan ke sebelah.<\/p>\n<p>Alya, teman sebangkuku, mendesah sambil menutup bukunya.<\/p>\n<p>&#8220;Baru separuh. Kamu?&#8221;<br \/>\n&#8220;Baru buka laptop&#8230;&#8221; jawabku jujur.<\/p>\n<p>Suara kelas sedang ramai-ramainya. Meja depan sudah mulai ribut nyiapin bahan presentasi, anak-anak di belakang saling lempar kertas, dan suara stapler berbunyi dari dua sisi sekaligus. Tapi ada satu titik yang tetap tenang\u2014seperti tidak tersentuh oleh semua keributan itu.<\/p>\n<p>Lintang.<\/p>\n<p>Dia duduk tegak. Tubuhnya agak miring ke arah jendela, tapi matanya menghadap buku. Tangan kirinya menopang dagu, dan tangan kanan sesekali menulis cepat, lalu berhenti. Menulis lagi. Lalu berhenti lagi. Seolah dia sedang mencatat sesuatu yang hanya bisa dia pahami.<\/p>\n<p>Aku memperhatikannya lagi diam-diam.<\/p>\n<p>&#8220;Apa sih yang kamu lihat mulu ke belakang?&#8221; bisik Alya pelan sambil nyikut lenganku.<\/p>\n<p>Aku cepat-cepat menoleh ke depan. &#8220;Nggak, cuma&#8230; iseng.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Lintang ya?&#8221;<br \/>\n&#8220;Apa sih&#8230;&#8221;<br \/>\nAlya senyum. &#8220;Iya kan. Kamu tuh udah kayak CCTV manusia.&#8221;<\/p>\n<p>Aku hanya tersenyum kecil. Tapi tidak menyangkal.<\/p>\n<p>Lintang tidak pernah jadi pusat apa pun.<br \/>\nTapi justru itu yang membuatnya susah diabaikan.<\/p>\n<p>Kamu tahu orang-orang yang bahkan cara duduknya kelihatan punya dunia sendiri?<br \/>\nItu Lintang.<br \/>\nDia tidak membungkuk ke depan seperti anak-anak yang aktif, tidak juga bersandar malas seperti yang bosan. Dia duduk seolah dia harus menjaga jarak dari semua, tapi juga tidak ingin tertinggal.<\/p>\n<p>Pernah satu kali, tipe-x-ku jatuh dan terguling ke belakang. Sebelum aku sempat membalik badan, ada tangan yang mengambilkannya.<\/p>\n<p>\u201cPunya kamu?\u201d tanyanya. Suaranya pelan, agak berat.<\/p>\n<p>Aku mengangguk. \u201cMakasih.\u201d<\/p>\n<p>Dia hanya mengangguk balik, lalu duduk lagi. Tidak menunggu reaksi, tidak mencoba basa-basi. Tapi tangannya tadi&#8230; hangat. Dan sesaat, ruang kelas yang bising terasa seperti tak bersuara.<\/p>\n<p>Hari itu, aku mencatat sesuatu di ujung halaman buku catatanku:<\/p>\n<p><em>&#8220;Ada orang-orang yang tidak perlu berteriak untuk didengar. Mereka cukup diam, dan dunia mulai bertanya-tanya tentang mereka.&#8221;<\/em><\/p>\n<p>Dan sejak saat itu, setiap hari aku menoleh.<br \/>\nBukan untuk iseng.<br \/>\nTapi karena aku tahu, semakin aku melihatnya, semakin aku merasa&#8230;<br \/>\ndia bukan hanya bagian dari kelas kami.<\/p>\n<p>Dia adalah pertanyaan yang belum sempat aku jawab.<\/p>\n<h3><em><strong>Bagian II: Lembar yang Tidak Pernah Dikirim<\/strong><\/em><\/h3>\n<p>Aku pernah menulis surat untuk seseorang yang hanya kutahu lewat bayangannya di kaca.<br \/>\nSeseorang yang tidak pernah kutemui dalam jarak bicara,<br \/>\ntapi kutemui setiap hari dalam jarak pandang.<\/p>\n<p>Kertasnya biasa. Barisnya biru pucat.<br \/>\nTapi setiap huruf yang kutulis terasa seperti membuka jendela ke arah yang tak berani kubuka.<\/p>\n<p>Surat itu tidak pernah kukirim.<br \/>\nDan mungkin&#8230; memang tidak untuk dikirimkan.<\/p>\n<p>\u201cLana, kamu udah nulis ulang yang tugas bagian kamu belum?\u201d<br \/>\nSuara Alya, temanku, membuyarkan lamunanku. Ia duduk tepat di sebelah, mengunyah permen karet seperti biasa.<\/p>\n<p>\u201cUdah kok, tadi malam. Aku masukin ke dokumen jam sepuluh lewat.\u201d<br \/>\nAku menatap layar ponsel, lalu mataku tanpa sadar melirik ke pojok kanan belakang.<\/p>\n<p>Lintang seperti biasa: diam. Tangannya bergerak pelan menandai kata-kata di buku, sesekali mengetik. Tidak ada yang aneh, tapi aku selalu merasa ingin tahu apa yang sedang ia pikirkan.<\/p>\n<p>Alya menyikut lenganku pelan. \u201cKamu nunggu dia bales chat ya?\u201d<\/p>\n<p>Aku tersentak sedikit. \u201cHah? Nggak, cuma liat dia udah cek file-nya atau belum.\u201d<\/p>\n<p>\u201cHei, aku nggak bego ya. Dari kemarin juga kamu selalu ngintip-ngintip dia. Tapi kayaknya dia nggak pernah nyapa balik?\u201d<\/p>\n<p>Aku menunduk sambil tersenyum kecil. \u201cMungkin dia cuma&#8230; nggak nyaman kalau terlalu banyak ngobrol.\u201d<\/p>\n<p>Alya mengangkat alis. \u201cAtau dia emang diem-diem punya radar buat tahu siapa yang ngeliatin dia diam-diam.\u201d<\/p>\n<p>Aku tertawa pelan, lalu kembali menatap kertas catatanku. Di balik halaman paling belakang, ada selembar surat terlipat rapi. Aku menulisnya diam-diam, malam itu.<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Lintang,<\/em><br \/>\n<em>Kalau aku harus jujur, aku tidak tahu kenapa aku menulis ini.<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Mungkin karena aku ingin menyapamu tanpa membuatmu merasa harus menjawab.<\/em><br \/>\n<em>Mungkin karena aku ingin mengenang sesuatu yang bahkan belum pernah terjadi.<\/em><\/p>\n<p>Setiap kali aku membaca tulisannya, entah itu revisi tugas atau potongan narasi, selalu ada perasaan yang aneh\u2014seperti dia sedang berkata jujur, tanpa benar-benar membuka mulut.<\/p>\n<p>Dia tidak pernah bilang tentang siapa tulisannya.<br \/>\nTapi kadang aku berpikir&#8230; mungkin dia sedang menulis tentang dirinya sendiri.<br \/>\nAtau tentang seseorang yang ia kenal begitu dekat&#8230;<br \/>\ndengan diam.<\/p>\n<p>Aku melipat kembali surat yang belum pernah kukirim.<\/p>\n<blockquote><p><em>Kalau kamu merasa tidak pernah benar-benar dipanggil di kelas ini, bukan berarti kamu tidak dilihat.<\/em><br \/>\n<em>Kalau kamu merasa berjalan sendirian, bukan berarti tidak ada yang mengamati langkahmu.<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p><em>Aku melihatmu. Kadang dari dua kursi di depan, kadang dari balik kaca jendela.<\/em><br \/>\n<em>Dan entah kenapa, aku ingin kamu tahu itu.<\/em><\/p>\n<p>Sore itu, sebelum pulang, aku sempat berdiri cukup dekat dengan bangkunya.<br \/>\nLintang sudah pergi. Tapi di atas mejanya, masih tertinggal buku catatan.<br \/>\nSebentar aku berpikir&#8230;<br \/>\nHaruskah aku selipkan surat itu?<\/p>\n<p>Tapi langkahku mundur.<br \/>\nBukan karena ragu. Tapi karena aku tahu, mungkin perasaan ini bukan untuk dibalas.<\/p>\n<p>Ada yang memang harus diam-diam tumbuh, agar tidak gugur terlalu cepat.<\/p>\n<p>Dan surat itu&#8230;<br \/>\nmasih kusimpan sampai hari ini.<\/p>\n<p>Selembar kertas yang tidak pernah sampai.<br \/>\nTapi cukup untuk membuatku percaya:<br \/>\nkadang, saling memahami tidak butuh percakapan.<\/p>\n<h3><em><strong>Bagian III: Saat Cerita Itu Dibacakan<\/strong><\/em><\/h3>\n<p>Senin pagi. Langit di luar kelabu, seperti lupa caranya bersinar.<br \/>\nTapi kelas kami tetap riuh, seperti biasa.<\/p>\n<p>Ada yang tukar makanan, ada yang rebutan penghapus.<br \/>\nAku duduk di tempatku, membuka buku pelajaran setengah hati.<\/p>\n<p>\u201cLana, udah tau belum Bu Winda mau bacain cerpen dari anak-anak hari ini?\u201d tanya Alya pelan sambil nyender ke meja.<\/p>\n<p>\u201cUdah. Katanya yang paling jujur dan nyentuh bakal dibacain depan kelas,\u201d jawabku sambil menyibak rambut ke belakang telinga. \u201cDeg-degan sih&#8230; Tapi bukan karena cerpenku.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKenapa? Kamu nulis jelek?\u201d<\/p>\n<p>Aku nyengir. \u201cBukan jelek. Cuma&#8230; terlalu aman, mungkin. Aku nulis tentang guru favorit.\u201d<\/p>\n<p>\u201cDuh,\u201d Alya meringis. \u201cKalah deh sama yang nulis kisah patah hati.\u201d<\/p>\n<p>Kami tertawa kecil.<\/p>\n<p>Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki terdengar. Bu Winda masuk, membawa beberapa lembar kertas. Tanpa senyum. Tapi hari ini ada sesuatu di matanya. Lebih dalam. Lebih lambat.<\/p>\n<p>\u201cPagi,\u201d katanya singkat. \u201cSebelum mulai pelajaran, saya ingin bacakan satu cerita. Bukan karena paling panjang. Tapi karena paling jujur.\u201d<\/p>\n<p>Semua langsung diam.<\/p>\n<p>Termasuk aku.<\/p>\n<p>Lintang yang duduk di belakang, seperti biasa sedikit menegakkan punggung. Tidak mencolok. Tapi aku melihatnya. Seperti ada udara yang berubah.<\/p>\n<p>Bu Winda membuka kertasnya pelan, lalu membaca:<\/p>\n<p><strong>&#8220;Judul: Nomor 18.&#8221;<\/strong><\/p>\n<p>Aku refleks menoleh ke belakang. Lintang menunduk.<\/p>\n<p>\u201cDia duduk di pojok. Sering datang paling awal. Sering juga pulang paling akhir. Tapi tidak ada yang tahu.\u201d<\/p>\n<p>\u201cDia tahu nama semua orang. Tapi tidak yakin ada yang benar-benar tahu namanya.\u201d<\/p>\n<p>\u201cDia mendengarkan semuanya, tapi jarang ditanya bagaimana harinya.\u201d<\/p>\n<p>\u201cDia tidak ingin jadi pusat perhatian. Dia hanya ingin, sesekali, seseorang menoleh dan bilang: &#8216;Aku melihatmu.\u2019\u201d<\/p>\n<p>Aku menelan ludah. Jantungku pelan-pelan mengetuk keras.<br \/>\nAku mengenal kalimat-kalimat itu.<br \/>\nBukan karena aku pernah menulisnya, Tapi karena&#8230; aku seperti pernah <strong>mendengar rasa<\/strong> itu.<\/p>\n<p>Seorang anak di barisan depan menoleh ke temannya.<br \/>\n\u201cSiapa sih yang nulis ini?\u201d bisiknya.<\/p>\n<p>\u201cKayak orang kesepian banget&#8230;\u201d<br \/>\n\u201cSerem tau, kayak&#8230; sedih beneran.\u201d<\/p>\n<p>Suara-suara kecil mulai terdengar. Tapi tidak lama.<br \/>\nKarena Bu Winda membaca bagian terakhir:<\/p>\n<blockquote><p><em>\u201cDia tidak pernah ingin terlihat paling baik. Dia hanya ingin tidak terus-menerus diabaikan.\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>\u201cDan kalau suatu hari dia menghilang, mungkin bukan karena dia menyerah. Tapi karena dia merasa&#8230; tidak pernah benar-benar hadir.\u201d<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Aku menggigit ujung pulpenku. Mataku berkaca.<br \/>\nAku menoleh lagi. Lintang menatap lurus ke depan. Tidak senyum. Tidak gelisah.<br \/>\nTapi ada sesuatu dalam ekspresi itu seperti seseorang yang akhirnya bisa bernapas.<\/p>\n<p>Alya menyikut lenganku pelan.<\/p>\n<p>\u201cLana&#8230; kamu sadar nggak sih? Cerita ini&#8230; kayak&#8230;\u201d<\/p>\n<p>Aku mengangguk pelan. Tak sanggup bicara.<\/p>\n<p>Bu Winda melipat kertasnya. Meletakkannya di meja.<\/p>\n<p>Lalu menatap kami semua. Matanya berhenti sebentar pada Lintang. Hanya sebentar.<\/p>\n<p>Tapi cukup lama untuk membuatku tahu&#8230;<\/p>\n<p>Dia tahu.<\/p>\n<p>Dan sekarang&#8230;<br \/>\nAku juga tahu.<\/p>\n<h3><em><strong>Bagian V: Kursi Kosong &amp; Cahaya Terakhir<\/strong><\/em><\/h3>\n<p>Hari itu hari terakhir sekolah.<\/p>\n<p>Matahari masuk lembut dari sela tirai. Langit bersih. Udara hangat. Tapi rasanya seperti dunia sedang pelan-pelan mengemas kenangan.<\/p>\n<p>Aku duduk bersama beberapa teman, mencoret-coret seragam dengan spidol. Tertawa sebentar, lalu diam lebih lama.<\/p>\n<p>\u201cLo mau kuliah di mana, Lan?\u201d tanya Alya sambil menggambar bunga kecil di lengan bajuku.<\/p>\n<p>\u201cBelum tahu. Kayaknya ikut tes mandiri,\u201d jawabku seadanya.<\/p>\n<p>\u201cPasti masuk, deh. Lo rajin, kok. Nggak kayak gue,\u201d timpal Dira, tertawa kecil.<\/p>\n<p>Kami tertawa sebentar. Tapi tak lama.\u00a0Aku melirik ke belakang. Lintang duduk di tempatnya. Sendiri, seperti biasa. Tapi caranya menatap jendela\u2026 tidak seperti biasanya. Seperti sedang berpamitan.<\/p>\n<p>\u201cEh,\u201d bisik Alya sambil mendekat. \u201cItu si Lintang ya?\u201d<\/p>\n<p>Aku mengangguk pelan.<\/p>\n<p>\u201cDulu dia bukan dari sekolah sini, kan?\u201d tanyanya. \u201cKatanya pernah pindahan dari luar kota. Tapi nggak ada yang tahu pasti.\u201d<\/p>\n<p>Aku menoleh. Terlalu cepat.<\/p>\n<p>\u201cKenapa?\u201d tanyaku, mencoba terdengar biasa.<\/p>\n<p>Alya mengangkat bahu. \u201cEntahlah. Ada yang bilang soal keluarga. Ada juga yang bilang dia sempat lama nggak sekolah. Tapi cuma gosip, sih.\u201d<\/p>\n<p>Aku diam.<br \/>\nTapi di dalam kepalaku, ada suara kecil.<br \/>\nBukan dari Alya. Bukan dari siapa-siapa.<\/p>\n<p>Tapi dari\u2026 sesuatu yang lebih lama. Lebih dalam.<br \/>\nSeperti pernah ada sesuatu antara aku dan Lintang.<br \/>\nTapi kabur.<br \/>\nTerlalu jauh untuk dipegang.<\/p>\n<p>Bel belum berbunyi.<\/p>\n<p>Lintang berdiri.<br \/>\nMengambil tasnya. Pelan, seolah tak ingin meninggalkan suara.<\/p>\n<p>Aku langsung berdiri.<br \/>\nLangkahku cepat. Ini saatnya. Ini kesempatan terakhir.<\/p>\n<p>Satu langkah. Dua. Tiga.<\/p>\n<p>Tapi saat aku sampai di bangkunya&#8230;<\/p>\n<p><strong>Lintang sudah tidak ada.<\/strong><\/p>\n<p>Kursinya kosong.<br \/>\nTidak ada tas. Tidak ada buku.<br \/>\nHanya <strong>secarik kertas putih<\/strong>, terlipat rapi di atas meja.<\/p>\n<p>Tanganku gemetar saat meraihnya.<br \/>\nAku ingin membukanya\u2014saat itu juga.<br \/>\nTapi sesuatu menahanku.<br \/>\nKarena\u2026 bagaimana kalau ini terakhir darinya?<\/p>\n<p>Aku duduk.<br \/>\nDi kursi Lintang.<br \/>\nUntuk pertama kalinya.<\/p>\n<p>Cahaya matahari jatuh tepat di meja.<br \/>\nHangat. Diam.<br \/>\nSeperti ada yang tertinggal, tapi tak bisa disentuh.<\/p>\n<p>\u201cLana,\u201d suara Alya dari pintu. \u201cLo nggak pulang?\u201d<\/p>\n<p>Aku menggeleng pelan. Masih memegang kertas putih itu.<\/p>\n<p>Alya berjalan mendekat. Suaranya lebih pelan. \u201cLo suka ya&#8230; sama Lintang?\u201d<\/p>\n<p>Aku tak menjawab.<\/p>\n<p>Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa&#8230;<br \/>\nmungkin jawabannya: iya. Tapi tidak seperti yang orang kira.<\/p>\n<p>Bukan suka karena kagum. Tapi suka karena\u2026 pernah merasa dekat, entah kapan.<\/p>\n<p>Alya menepuk pundakku pelan. \u201cDia anak yang aneh. Tapi mungkin&#8230; bukan karena dia mau jadi aneh.\u201d<\/p>\n<p>Lalu dia pergi.<\/p>\n<p>Di ujung lorong, Bu Winda berdiri sendirian.<br \/>\nIa membuka buku kecil dari tasnya. Halaman yang sudah ditandai.<\/p>\n<p>\u201cNomor 18 tidak pernah benar-benar absen,\u201d gumamnya.<br \/>\n\u201cIa hanya lebih dulu lulus\u2026 dari sunyi.\u201d<\/p>\n<p><strong>Bel berbunyi.<\/strong><br \/>\nSekolah resmi berakhir.<br \/>\nTapi tak ada yang terasa selesai di dadaku.<\/p>\n<p>Teman-teman mulai berlarian, seragam penuh coretan, suara tawa, pelukan.<br \/>\nSemua seperti adegan film remaja yang ceria&#8230;<br \/>\ntapi entah kenapa, aku merasa duduk di luar layar.<\/p>\n<p>Aku masih di sini.<br \/>\nDi kursi yang belum hangatnya hilang.<br \/>\nKursi yang ditinggalkan seseorang yang pernah duduk begitu diam&#8230;<br \/>\nhingga dunia lupa mencatat kehadirannya.<\/p>\n<p>Tanganku menggenggam kertas putih itu.<br \/>\nLipatannya halus. Terjaga.<br \/>\nSeperti hati yang terlalu lama menyimpan sesuatu yang tak sempat diucapkan.<\/p>\n<p>Aku belum membukanya.<br \/>\nBukan karena tidak ingin tahu.<br \/>\nTapi karena&#8230; mungkin aku takut menemukan diriku sendiri di dalamnya.<\/p>\n<p>Apakah ia tahu?<br \/>\nApakah selama ini&#8230; aku juga terlihat baginya?<\/p>\n<p>Dari jendela, cahaya jatuh pelan ke meja.<br \/>\nBukan terang yang menghangatkan, tapi cahaya yang seolah mengantar pergi sesuatu. Atau&#8230; seseorang.<\/p>\n<p>Di kejauhan, aku melihat bayangan langkah terakhir di lorong.<br \/>\nMungkin itu Lintang. Mungkin bukan. Atau mungkin dia memang tidak pernah benar-benar ada, kecuali dalam cerita yang kini kugenggam sendiri.<\/p>\n<p>Dan kertas putih ini\u2026 masih belum kubuka.<\/p>\n<p>\ud83d\udccd <em>Tamat.<\/em><br \/>\n<em>Atau mungkin&#8230; barulah sebuah awal yang lain.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>yang belum baca Versi satu <a href=\"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/04\/absen-nomor-18-lintang-samudra\/\">Absen Nomor 18 : Lintang Samudra<\/a><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_177\" class=\"pvc_stats total_only  \" data-element-id=\"177\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" version=\"1.0\" viewBox=\"0 0 502 315\" preserveAspectRatio=\"xMidYMid meet\"><g transform=\"translate(0,332) scale(0.1,-0.1)\" fill=\"\" stroke=\"none\"><path d=\"M2394 3279 l-29 -30 -3 -207 c-2 -182 0 -211 15 -242 39 -76 157 -76 196 0 15 31 17 60 15 243 l-3 209 -33 29 c-26 23 -41 29 -80 29 -41 0 -53 -5 -78 -31z\"\/><path d=\"M3085 3251 c-45 -19 -58 -50 -96 -229 -47 -217 -49 -260 -13 -295 52 -53 146 -42 177 20 16 31 87 366 87 410 0 70 -86 122 -155 94z\"\/><path d=\"M1751 3234 c-13 -9 -29 -31 -37 -50 -12 -29 -10 -49 21 -204 19 -94 39 -189 45 -210 14 -50 54 -80 110 -80 34 0 48 6 76 34 21 21 34 44 34 59 0 14 -18 113 -40 219 -37 178 -43 195 -70 221 -36 32 -101 37 -139 11z\"\/><path d=\"M1163 3073 c-36 -7 -73 -59 -73 -102 0 -56 133 -378 171 -413 34 -32 83 -37 129 -13 70 36 67 87 -16 290 -86 209 -89 214 -129 231 -35 14 -42 15 -82 7z\"\/><path d=\"M3689 3066 c-15 -9 -33 -30 -42 -48 -48 -103 -147 -355 -147 -375 0 -98 131 -148 192 -74 13 15 57 108 97 206 80 196 84 226 37 273 -30 30 -99 39 -137 18z\"\/><path d=\"M583 2784 c-38 -19 -67 -74 -58 -113 9 -42 211 -354 242 -373 16 -10 45 -18 66 -18 51 0 107 52 107 100 0 39 -1 41 -124 234 -80 126 -108 162 -133 173 -41 17 -61 16 -100 -3z\"\/><path d=\"M4250 2784 c-14 -9 -74 -91 -133 -183 -95 -150 -107 -173 -107 -213 0 -55 33 -94 87 -104 67 -13 90 8 211 198 130 202 137 225 78 284 -27 27 -42 34 -72 34 -22 0 -50 -8 -64 -16z\"\/><path d=\"M2275 2693 c-553 -48 -1095 -270 -1585 -649 -135 -104 -459 -423 -483 -476 -23 -49 -22 -139 2 -186 73 -142 361 -457 571 -626 285 -228 642 -407 990 -497 242 -63 336 -73 660 -74 310 0 370 5 595 52 535 111 1045 392 1455 803 122 121 250 273 275 326 19 41 19 137 0 174 -41 79 -309 363 -465 492 -447 370 -946 591 -1479 653 -113 14 -422 18 -536 8z m395 -428 c171 -34 330 -124 456 -258 112 -119 167 -219 211 -378 27 -96 24 -300 -5 -401 -72 -255 -236 -447 -474 -557 -132 -62 -201 -76 -368 -76 -167 0 -236 14 -368 76 -213 98 -373 271 -451 485 -162 444 86 934 547 1084 153 49 292 57 452 25z m909 -232 c222 -123 408 -262 593 -441 76 -74 138 -139 138 -144 0 -16 -233 -242 -330 -319 -155 -123 -309 -223 -461 -299 l-81 -41 32 46 c18 26 49 83 70 128 143 306 141 649 -6 957 -25 52 -61 116 -79 142 l-34 47 45 -20 c26 -10 76 -36 113 -56z m-2057 25 c-40 -58 -105 -190 -130 -263 -110 -324 -59 -707 132 -981 25 -35 42 -64 37 -64 -19 0 -241 119 -326 174 -188 122 -406 314 -532 468 l-58 71 108 103 c185 178 428 349 672 473 66 33 121 60 123 61 2 0 -10 -19 -26 -42z\"\/><path d=\"M2375 1950 c-198 -44 -350 -190 -395 -379 -18 -76 -8 -221 19 -290 114 -284 457 -406 731 -260 98 52 188 154 231 260 27 69 37 214 19 290 -38 163 -166 304 -326 360 -67 23 -215 33 -279 19z\"\/><\/g><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerita tentang seseorang yang selalu hadir, tapi tak pernah benar-benar dilihat.Cerpen oleh: Qi2 &amp; Rasa | 18 Juli 2025 Ada kertas putih di laci mejaku.\u00a0 Sudah lama aku simpan. Dilipat rapi. Tidak pernah kubuka. Padahal, itu mungkin hal terakhir yang pernah ditinggalkan seseorang di kursi belakang.Tapi entah kenapa, aku takut tahu isinya. Takut kalau isinya biasa saja.\u00a0 Atau\u2026 terlalu nyata. Orang-orang bilang hari kelulusan adalah hari kebebasan. Tapi buatku, hari itu adalah hari paling sunyi.Karena saat aku akhirnya menoleh untuk menyapa dia Lintang sudah tidak ada. Kadang aku bertanya:Kalau saja aku bicara lebih dulu, apakah segalanya akan berbeda?Kalau saja aku memberanikan diri satu minggu lebih cepat, satu hari lebih awal, satu detik lebih berani\u2014apakah dia masih akan duduk di sana\u2026atau tetap memilih pergi diam-diam seperti pagi terakhir itu? Cerita ini bukan tentang cinta.Bukan juga tentang kehilangan. Ini tentang seseorang yang duduk satu baris dariku. tapi rasanya seperti duduk di dunia yang tak pernah bisa kusentuh. Ini cerita dari baris ketiga, bangku ke kiri.Dari sudut pandang yang (mungkin) tidak pernah benar-benar ia lirik.Tapi selalu memperhatikannya diam-diam. Aku.Lana Raisya Putri.Absen nomor 17.Satu angka sebelum seseorang yang tak pernah benar-benar Absen. Bagian I: Aku yang Duduk di Sebelahnya Kalau kamu tanya di mana tempat favoritku di kelas, aku akan bilang: baris ketiga dari kiri, dua kursi dari jendela. Tempat itu tidak terlalu depan, tidak juga terlalu belakang. Cukup strategis untuk menyembunyikan diri, tapi masih bisa terlihat kalau sedang berusaha keras. Dan dari situ, aku bisa melihat semuanya. Termasuk dia. Lintang. Absen nomor 18. Pojok kanan belakang. Tempat cahaya pagi datang lebih dulu, tapi sering terhalang punggung teman-temannya. &#8220;Alya, kamu udah ngerjain tugasnya Bu Winda belum?&#8221; bisikku pelan ke sebelah. Alya, teman sebangkuku, mendesah sambil menutup bukunya. &#8220;Baru separuh. Kamu?&#8221; &#8220;Baru buka laptop&#8230;&#8221; jawabku jujur. Suara kelas sedang ramai-ramainya. Meja depan sudah mulai ribut nyiapin bahan presentasi, anak-anak di belakang saling lempar kertas, dan suara stapler berbunyi dari dua sisi sekaligus. Tapi ada satu titik yang tetap tenang\u2014seperti tidak tersentuh oleh semua keributan itu. Lintang. Dia duduk tegak. Tubuhnya agak miring ke arah jendela, tapi matanya menghadap buku. Tangan kirinya menopang dagu, dan tangan kanan sesekali menulis cepat, lalu berhenti. Menulis lagi. Lalu berhenti lagi. Seolah dia sedang mencatat sesuatu yang hanya bisa dia pahami. Aku memperhatikannya lagi diam-diam. &#8220;Apa sih yang kamu lihat mulu ke belakang?&#8221; bisik Alya pelan sambil nyikut lenganku. Aku cepat-cepat menoleh ke depan. &#8220;Nggak, cuma&#8230; iseng.&#8221; &#8220;Lintang ya?&#8221; &#8220;Apa sih&#8230;&#8221; Alya senyum. &#8220;Iya kan. Kamu tuh udah kayak CCTV manusia.&#8221; Aku hanya tersenyum kecil. Tapi tidak menyangkal. Lintang tidak pernah jadi pusat apa pun. Tapi justru itu yang membuatnya susah diabaikan. Kamu tahu orang-orang yang bahkan cara duduknya kelihatan punya dunia sendiri? Itu Lintang. Dia tidak membungkuk ke depan seperti anak-anak yang aktif, tidak juga bersandar malas seperti yang bosan. Dia duduk seolah dia harus menjaga jarak dari semua, tapi juga tidak ingin tertinggal. Pernah satu kali, tipe-x-ku jatuh dan terguling ke belakang. Sebelum aku sempat membalik badan, ada tangan yang mengambilkannya. \u201cPunya kamu?\u201d tanyanya. Suaranya pelan, agak berat. Aku mengangguk. \u201cMakasih.\u201d Dia hanya mengangguk balik, lalu duduk lagi. Tidak menunggu reaksi, tidak mencoba basa-basi. Tapi tangannya tadi&#8230; hangat. Dan sesaat, ruang kelas yang bising terasa seperti tak bersuara. Hari itu, aku mencatat sesuatu di ujung halaman buku catatanku: &#8220;Ada orang-orang yang tidak perlu berteriak untuk didengar. Mereka cukup diam, dan dunia mulai bertanya-tanya tentang mereka.&#8221; Dan sejak saat itu, setiap hari aku menoleh. Bukan untuk iseng. Tapi karena aku tahu, semakin aku melihatnya, semakin aku merasa&#8230; dia bukan hanya bagian dari kelas kami. Dia adalah pertanyaan yang belum sempat aku jawab. Bagian II: Lembar yang Tidak Pernah Dikirim Aku pernah menulis surat untuk seseorang yang hanya kutahu lewat bayangannya di kaca. Seseorang yang tidak pernah kutemui dalam jarak bicara, tapi kutemui setiap hari dalam jarak pandang. Kertasnya biasa. Barisnya biru pucat. Tapi setiap huruf yang kutulis terasa seperti membuka jendela ke arah yang tak berani kubuka. Surat itu tidak pernah kukirim. Dan mungkin&#8230; memang tidak untuk dikirimkan. \u201cLana, kamu udah nulis ulang yang tugas bagian kamu belum?\u201d Suara Alya, temanku, membuyarkan lamunanku. Ia duduk tepat di sebelah, mengunyah permen karet seperti biasa. \u201cUdah kok, tadi malam. Aku masukin ke dokumen jam sepuluh lewat.\u201d Aku menatap layar ponsel, lalu mataku tanpa sadar melirik ke pojok kanan belakang. Lintang seperti biasa: diam. Tangannya bergerak pelan menandai kata-kata di buku, sesekali mengetik. Tidak ada yang aneh, tapi aku selalu merasa ingin tahu apa yang sedang ia pikirkan. Alya menyikut lenganku pelan. \u201cKamu nunggu dia bales chat ya?\u201d Aku tersentak sedikit. \u201cHah? Nggak, cuma liat dia udah cek file-nya atau belum.\u201d \u201cHei, aku nggak bego ya. Dari kemarin juga kamu selalu ngintip-ngintip dia. Tapi kayaknya dia nggak pernah nyapa balik?\u201d Aku menunduk sambil tersenyum kecil. \u201cMungkin dia cuma&#8230; nggak nyaman kalau terlalu banyak ngobrol.\u201d Alya mengangkat alis. \u201cAtau dia emang diem-diem punya radar buat tahu siapa yang ngeliatin dia diam-diam.\u201d Aku tertawa pelan, lalu kembali menatap kertas catatanku. Di balik halaman paling belakang, ada selembar surat terlipat rapi. Aku menulisnya diam-diam, malam itu. Lintang, Kalau aku harus jujur, aku tidak tahu kenapa aku menulis ini. Mungkin karena aku ingin menyapamu tanpa membuatmu merasa harus menjawab. Mungkin karena aku ingin mengenang sesuatu yang bahkan belum pernah terjadi. Setiap kali aku membaca tulisannya, entah itu revisi tugas atau potongan narasi, selalu ada perasaan yang aneh\u2014seperti dia sedang berkata jujur, tanpa benar-benar membuka mulut. Dia tidak pernah bilang tentang siapa tulisannya. Tapi kadang aku berpikir&#8230; mungkin dia sedang menulis tentang dirinya sendiri. Atau tentang seseorang yang ia kenal begitu dekat&#8230; dengan diam. Aku melipat kembali surat yang belum pernah kukirim. Kalau kamu merasa tidak pernah benar-benar dipanggil di kelas ini, bukan berarti kamu tidak dilihat. Kalau kamu merasa berjalan sendirian, bukan berarti tidak ada yang mengamati langkahmu. Aku melihatmu. Kadang dari dua kursi di depan, kadang dari balik kaca jendela. Dan entah kenapa, aku ingin kamu tahu itu. Sore itu, sebelum pulang, aku sempat berdiri cukup dekat dengan bangkunya. Lintang sudah pergi. Tapi di atas mejanya, masih tertinggal buku catatan. Sebentar aku berpikir&#8230; Haruskah aku selipkan surat itu? Tapi langkahku mundur. Bukan karena ragu. Tapi karena aku tahu, mungkin perasaan ini bukan untuk dibalas. Ada yang memang harus diam-diam tumbuh, agar tidak gugur terlalu cepat. Dan surat itu&#8230; masih kusimpan sampai hari ini. Selembar kertas yang tidak pernah sampai. Tapi cukup untuk membuatku percaya: kadang, saling memahami tidak butuh percakapan. Bagian III: Saat Cerita Itu Dibacakan Senin pagi. Langit di luar kelabu, seperti lupa caranya bersinar. Tapi kelas kami tetap riuh, seperti biasa. Ada yang tukar makanan, ada yang rebutan penghapus. Aku duduk di tempatku, membuka buku pelajaran setengah hati. \u201cLana, udah tau belum Bu Winda mau bacain cerpen dari anak-anak hari ini?\u201d tanya Alya pelan sambil nyender ke meja. \u201cUdah. Katanya yang paling jujur dan nyentuh bakal dibacain depan kelas,\u201d jawabku sambil menyibak rambut ke belakang telinga. \u201cDeg-degan sih&#8230; Tapi bukan karena cerpenku.\u201d \u201cKenapa? Kamu nulis jelek?\u201d Aku nyengir. \u201cBukan jelek. Cuma&#8230; terlalu aman, mungkin. Aku nulis tentang guru favorit.\u201d \u201cDuh,\u201d Alya meringis. \u201cKalah deh sama yang nulis kisah patah hati.\u201d Kami tertawa kecil. Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki terdengar. Bu Winda masuk, membawa beberapa lembar kertas. Tanpa senyum. Tapi hari ini ada sesuatu di matanya. Lebih dalam. Lebih lambat. \u201cPagi,\u201d katanya singkat. \u201cSebelum mulai pelajaran, saya ingin bacakan satu cerita. Bukan karena paling panjang. Tapi karena paling jujur.\u201d Semua langsung diam. Termasuk aku. Lintang yang duduk di belakang, seperti biasa sedikit menegakkan punggung. Tidak mencolok. Tapi aku melihatnya. Seperti ada udara yang berubah. Bu Winda membuka kertasnya pelan, lalu membaca: &#8220;Judul: Nomor 18.&#8221; Aku refleks menoleh ke belakang. Lintang menunduk. \u201cDia duduk di pojok. Sering datang paling awal. Sering juga pulang paling akhir. Tapi tidak ada yang tahu.\u201d \u201cDia tahu nama semua orang. Tapi tidak yakin ada yang benar-benar tahu namanya.\u201d \u201cDia mendengarkan semuanya, tapi jarang ditanya bagaimana harinya.\u201d \u201cDia tidak ingin jadi pusat perhatian. Dia hanya ingin, sesekali, seseorang menoleh dan bilang: &#8216;Aku melihatmu.\u2019\u201d Aku menelan ludah. Jantungku pelan-pelan mengetuk keras. Aku mengenal kalimat-kalimat itu. Bukan karena aku pernah menulisnya, Tapi karena&#8230; aku seperti pernah mendengar rasa itu. Seorang anak di barisan depan menoleh ke temannya. \u201cSiapa sih yang nulis ini?\u201d bisiknya. \u201cKayak orang kesepian banget&#8230;\u201d \u201cSerem tau, kayak&#8230; sedih beneran.\u201d Suara-suara kecil mulai terdengar. Tapi tidak lama. Karena Bu Winda membaca bagian terakhir: \u201cDia tidak pernah ingin terlihat paling baik. Dia hanya ingin tidak terus-menerus diabaikan.\u201d \u201cDan kalau suatu hari dia menghilang, mungkin bukan karena dia menyerah. Tapi karena dia merasa&#8230; tidak pernah benar-benar hadir.\u201d Aku menggigit ujung pulpenku. Mataku berkaca. Aku menoleh lagi. Lintang menatap lurus ke depan. Tidak senyum. Tidak gelisah. Tapi ada sesuatu dalam ekspresi itu seperti seseorang yang akhirnya bisa bernapas. Alya menyikut lenganku pelan. \u201cLana&#8230; kamu sadar nggak sih? Cerita ini&#8230; kayak&#8230;\u201d Aku mengangguk pelan. Tak sanggup bicara. Bu Winda melipat kertasnya. Meletakkannya di meja. Lalu menatap kami semua. Matanya berhenti sebentar pada Lintang. Hanya sebentar. Tapi cukup lama untuk membuatku tahu&#8230; Dia tahu. Dan sekarang&#8230; Aku juga tahu. Bagian V: Kursi Kosong &amp; Cahaya Terakhir Hari itu hari terakhir sekolah. Matahari masuk lembut dari sela tirai. Langit bersih. Udara hangat. Tapi rasanya seperti dunia sedang pelan-pelan mengemas kenangan. Aku duduk bersama beberapa teman, mencoret-coret seragam dengan spidol. Tertawa sebentar, lalu diam lebih lama. \u201cLo mau kuliah di mana, Lan?\u201d tanya Alya sambil menggambar bunga kecil di lengan bajuku. \u201cBelum tahu. Kayaknya ikut tes mandiri,\u201d jawabku seadanya. \u201cPasti masuk, deh. Lo rajin, kok. Nggak kayak gue,\u201d timpal Dira, tertawa kecil. Kami tertawa sebentar. Tapi tak lama.\u00a0Aku melirik ke belakang. Lintang duduk di tempatnya. Sendiri, seperti biasa. Tapi caranya menatap jendela\u2026 tidak seperti biasanya. Seperti sedang berpamitan. \u201cEh,\u201d bisik Alya sambil mendekat. \u201cItu si Lintang ya?\u201d Aku mengangguk pelan. \u201cDulu dia bukan dari sekolah sini, kan?\u201d tanyanya. \u201cKatanya pernah pindahan dari luar kota. Tapi nggak ada yang tahu pasti.\u201d Aku menoleh. Terlalu cepat. \u201cKenapa?\u201d tanyaku, mencoba terdengar biasa. Alya mengangkat bahu. \u201cEntahlah. Ada yang bilang soal keluarga. Ada juga yang bilang dia sempat lama nggak sekolah. Tapi cuma gosip, sih.\u201d Aku diam. Tapi di dalam kepalaku, ada suara kecil. Bukan dari Alya. Bukan dari siapa-siapa. Tapi dari\u2026 sesuatu yang lebih lama. Lebih dalam. Seperti pernah ada sesuatu antara aku dan Lintang. Tapi kabur. Terlalu jauh untuk dipegang. Bel belum berbunyi. Lintang berdiri. Mengambil tasnya. Pelan, seolah tak ingin meninggalkan suara. Aku langsung berdiri. Langkahku cepat. Ini saatnya. Ini kesempatan terakhir. Satu langkah. Dua. Tiga. Tapi saat aku sampai di bangkunya&#8230; Lintang sudah tidak ada. Kursinya kosong. Tidak ada tas. Tidak ada buku. Hanya secarik kertas putih, terlipat rapi di atas meja. Tanganku gemetar saat meraihnya. Aku ingin membukanya\u2014saat itu juga. Tapi sesuatu menahanku. Karena\u2026 bagaimana kalau ini terakhir darinya? Aku duduk. Di kursi Lintang. Untuk pertama kalinya. Cahaya matahari jatuh tepat di meja. Hangat. Diam. Seperti ada yang tertinggal, tapi tak bisa disentuh. \u201cLana,\u201d suara Alya dari pintu. \u201cLo nggak pulang?\u201d Aku menggeleng pelan. Masih memegang kertas putih itu. Alya berjalan mendekat. Suaranya lebih pelan. \u201cLo suka ya&#8230; sama Lintang?\u201d Aku tak menjawab. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa&#8230; mungkin jawabannya: iya. Tapi tidak seperti yang orang kira. Bukan suka karena kagum. Tapi suka karena\u2026 pernah merasa dekat, entah kapan. Alya menepuk pundakku pelan. \u201cDia anak yang aneh. Tapi mungkin&#8230; bukan karena dia mau jadi aneh.\u201d Lalu dia pergi. Di ujung lorong, Bu Winda berdiri sendirian. Ia membuka buku kecil dari tasnya. Halaman yang sudah ditandai. \u201cNomor 18 tidak pernah benar-benar absen,\u201d gumamnya. \u201cIa hanya lebih dulu lulus\u2026 dari sunyi.\u201d Bel berbunyi. Sekolah resmi berakhir. Tapi tak ada yang terasa selesai di dadaku. Teman-teman mulai berlarian, seragam penuh coretan, suara tawa, pelukan. Semua seperti adegan film remaja yang ceria&#8230; tapi entah kenapa, aku merasa duduk di luar layar. Aku masih di sini. Di kursi yang belum hangatnya hilang. Kursi yang ditinggalkan seseorang yang pernah duduk begitu diam&#8230; hingga dunia lupa mencatat kehadirannya. Tanganku menggenggam kertas putih itu. Lipatannya halus. Terjaga. Seperti hati yang terlalu lama menyimpan sesuatu yang tak sempat diucapkan. Aku belum membukanya. Bukan karena tidak ingin tahu. Tapi karena&#8230; mungkin aku takut menemukan diriku sendiri di dalamnya. Apakah ia tahu? Apakah selama ini&#8230; aku&#8230;<\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_177\" class=\"pvc_stats total_only  \" data-element-id=\"177\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" version=\"1.0\" viewBox=\"0 0 502 315\" preserveAspectRatio=\"xMidYMid meet\"><g transform=\"translate(0,332) scale(0.1,-0.1)\" fill=\"\" stroke=\"none\"><path d=\"M2394 3279 l-29 -30 -3 -207 c-2 -182 0 -211 15 -242 39 -76 157 -76 196 0 15 31 17 60 15 243 l-3 209 -33 29 c-26 23 -41 29 -80 29 -41 0 -53 -5 -78 -31z\"\/><path d=\"M3085 3251 c-45 -19 -58 -50 -96 -229 -47 -217 -49 -260 -13 -295 52 -53 146 -42 177 20 16 31 87 366 87 410 0 70 -86 122 -155 94z\"\/><path d=\"M1751 3234 c-13 -9 -29 -31 -37 -50 -12 -29 -10 -49 21 -204 19 -94 39 -189 45 -210 14 -50 54 -80 110 -80 34 0 48 6 76 34 21 21 34 44 34 59 0 14 -18 113 -40 219 -37 178 -43 195 -70 221 -36 32 -101 37 -139 11z\"\/><path d=\"M1163 3073 c-36 -7 -73 -59 -73 -102 0 -56 133 -378 171 -413 34 -32 83 -37 129 -13 70 36 67 87 -16 290 -86 209 -89 214 -129 231 -35 14 -42 15 -82 7z\"\/><path d=\"M3689 3066 c-15 -9 -33 -30 -42 -48 -48 -103 -147 -355 -147 -375 0 -98 131 -148 192 -74 13 15 57 108 97 206 80 196 84 226 37 273 -30 30 -99 39 -137 18z\"\/><path d=\"M583 2784 c-38 -19 -67 -74 -58 -113 9 -42 211 -354 242 -373 16 -10 45 -18 66 -18 51 0 107 52 107 100 0 39 -1 41 -124 234 -80 126 -108 162 -133 173 -41 17 -61 16 -100 -3z\"\/><path d=\"M4250 2784 c-14 -9 -74 -91 -133 -183 -95 -150 -107 -173 -107 -213 0 -55 33 -94 87 -104 67 -13 90 8 211 198 130 202 137 225 78 284 -27 27 -42 34 -72 34 -22 0 -50 -8 -64 -16z\"\/><path d=\"M2275 2693 c-553 -48 -1095 -270 -1585 -649 -135 -104 -459 -423 -483 -476 -23 -49 -22 -139 2 -186 73 -142 361 -457 571 -626 285 -228 642 -407 990 -497 242 -63 336 -73 660 -74 310 0 370 5 595 52 535 111 1045 392 1455 803 122 121 250 273 275 326 19 41 19 137 0 174 -41 79 -309 363 -465 492 -447 370 -946 591 -1479 653 -113 14 -422 18 -536 8z m395 -428 c171 -34 330 -124 456 -258 112 -119 167 -219 211 -378 27 -96 24 -300 -5 -401 -72 -255 -236 -447 -474 -557 -132 -62 -201 -76 -368 -76 -167 0 -236 14 -368 76 -213 98 -373 271 -451 485 -162 444 86 934 547 1084 153 49 292 57 452 25z m909 -232 c222 -123 408 -262 593 -441 76 -74 138 -139 138 -144 0 -16 -233 -242 -330 -319 -155 -123 -309 -223 -461 -299 l-81 -41 32 46 c18 26 49 83 70 128 143 306 141 649 -6 957 -25 52 -61 116 -79 142 l-34 47 45 -20 c26 -10 76 -36 113 -56z m-2057 25 c-40 -58 -105 -190 -130 -263 -110 -324 -59 -707 132 -981 25 -35 42 -64 37 -64 -19 0 -241 119 -326 174 -188 122 -406 314 -532 468 l-58 71 108 103 c185 178 428 349 672 473 66 33 121 60 123 61 2 0 -10 -19 -26 -42z\"\/><path d=\"M2375 1950 c-198 -44 -350 -190 -395 -379 -18 -76 -8 -221 19 -290 114 -284 457 -406 731 -260 98 52 188 154 231 260 27 69 37 214 19 290 -38 163 -166 304 -326 360 -67 23 -215 33 -279 19z\"\/><\/g><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":178,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"googlesitekit_rrm_CAowhNW8DA:productID":"","footnotes":""},"categories":[23],"tags":[57,52,51,53,54,55,56,20,41,30,33,32,46,31,13,21],"class_list":["post-177","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita-rasa","tag-ceritafiguran","tag-ceritapendek","tag-cerpenindonesia","tag-fiksiremaja","tag-genzstories","tag-literasisekolah","tag-sastrakelas","tag-anak-muda","tag-budaya-membaca","tag-esaiopini","tag-langkahkecildampakbesar","tag-motivasidiamdiam","tag-narasi-dominan","tag-perankecil","tag-rasakita","tag-tugas-kuliah"],"a3_pvc":{"activated":true,"total_views":39,"today_views":0},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Absen Nomor 18 : Luna Raisa Putri - Artikelana<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Cerpen Absen Nomor 18 mengangkat kisah Lana Raisya Putri yang diam-diam memperhatikan teman sekelasnya, Lintang\u2014seseorang yang selalu hadir, tapi nyaris tak pernah benar-benar dilihat. Sebuah cerita reflektif tentang sunyi, keberadaan, dan makna memperhatikan dalam diam.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Absen Nomor 18 : Luna Raisa Putri - Artikelana\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Cerpen Absen Nomor 18 mengangkat kisah Lana Raisya Putri yang diam-diam memperhatikan teman sekelasnya, Lintang\u2014seseorang yang selalu hadir, tapi nyaris tak pernah benar-benar dilihat. Sebuah cerita reflektif tentang sunyi, keberadaan, dan makna memperhatikan dalam diam.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Artikelana\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-07-18T07:32:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Artikelana10.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1536\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"12 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/18\\\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/18\\\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c3b8803a05994e4eec7fb6895c9067ea\"},\"headline\":\"Absen Nomor 18 : Luna Raisa Putri\",\"datePublished\":\"2025-07-18T07:32:08+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/18\\\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\\\/\"},\"wordCount\":2092,\"commentCount\":1,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/18\\\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/Artikelana10.webp\",\"keywords\":[\"#CeritaFiguran\",\"#CeritaPendek\",\"#CerpenIndonesia\",\"#FiksiRemaja\",\"#GenZStories\",\"#LiterasiSekolah\",\"#SastraKelas\",\"Anak Muda\",\"Budaya Membaca\",\"EsaiOpini\",\"LangkahKecilDampakBesar\",\"MotivasiDiamDiam\",\"narasi dominan\",\"PeranKecil\",\"RasaKita\",\"Tugas Kuliah\"],\"articleSection\":[\"Cerita Rasa\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/18\\\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/18\\\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/18\\\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\\\/\",\"name\":\"Absen Nomor 18 : Luna Raisa Putri - Artikelana\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/18\\\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/18\\\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/Artikelana10.webp\",\"datePublished\":\"2025-07-18T07:32:08+00:00\",\"description\":\"Cerpen Absen Nomor 18 mengangkat kisah Lana Raisya Putri yang diam-diam memperhatikan teman sekelasnya, Lintang\u2014seseorang yang selalu hadir, tapi nyaris tak pernah benar-benar dilihat. Sebuah cerita reflektif tentang sunyi, keberadaan, dan makna memperhatikan dalam diam.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/18\\\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/18\\\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/18\\\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/Artikelana10.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/Artikelana10.webp\",\"width\":1536,\"height\":1024},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/18\\\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Absen Nomor 18 : Luna Raisa Putri\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/\",\"name\":\"Artikelana\",\"description\":\"Cerita Tak Hanya Dibaca, Tapi Dirasa\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#organization\",\"name\":\"Artikelana\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/08\\\/cropped-artikelana-logo-scaled-1.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/08\\\/cropped-artikelana-logo-scaled-1.webp\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"Artikelana\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c3b8803a05994e4eec7fb6895c9067ea\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/artikelana.com\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/author\\\/admin\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Absen Nomor 18 : Luna Raisa Putri - Artikelana","description":"Cerpen Absen Nomor 18 mengangkat kisah Lana Raisya Putri yang diam-diam memperhatikan teman sekelasnya, Lintang\u2014seseorang yang selalu hadir, tapi nyaris tak pernah benar-benar dilihat. Sebuah cerita reflektif tentang sunyi, keberadaan, dan makna memperhatikan dalam diam.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Absen Nomor 18 : Luna Raisa Putri - Artikelana","og_description":"Cerpen Absen Nomor 18 mengangkat kisah Lana Raisya Putri yang diam-diam memperhatikan teman sekelasnya, Lintang\u2014seseorang yang selalu hadir, tapi nyaris tak pernah benar-benar dilihat. Sebuah cerita reflektif tentang sunyi, keberadaan, dan makna memperhatikan dalam diam.","og_url":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/","og_site_name":"Artikelana","article_published_time":"2025-07-18T07:32:08+00:00","og_image":[{"width":1536,"height":1024,"url":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Artikelana10.webp","type":"image\/png"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin","Estimasi waktu membaca":"12 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#\/schema\/person\/c3b8803a05994e4eec7fb6895c9067ea"},"headline":"Absen Nomor 18 : Luna Raisa Putri","datePublished":"2025-07-18T07:32:08+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/"},"wordCount":2092,"commentCount":1,"publisher":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Artikelana10.webp","keywords":["#CeritaFiguran","#CeritaPendek","#CerpenIndonesia","#FiksiRemaja","#GenZStories","#LiterasiSekolah","#SastraKelas","Anak Muda","Budaya Membaca","EsaiOpini","LangkahKecilDampakBesar","MotivasiDiamDiam","narasi dominan","PeranKecil","RasaKita","Tugas Kuliah"],"articleSection":["Cerita Rasa"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/","url":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/","name":"Absen Nomor 18 : Luna Raisa Putri - Artikelana","isPartOf":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Artikelana10.webp","datePublished":"2025-07-18T07:32:08+00:00","description":"Cerpen Absen Nomor 18 mengangkat kisah Lana Raisya Putri yang diam-diam memperhatikan teman sekelasnya, Lintang\u2014seseorang yang selalu hadir, tapi nyaris tak pernah benar-benar dilihat. Sebuah cerita reflektif tentang sunyi, keberadaan, dan makna memperhatikan dalam diam.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/#primaryimage","url":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Artikelana10.webp","contentUrl":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Artikelana10.webp","width":1536,"height":1024},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/07\/18\/absen-nomor-18-luna-raisa-putri\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/artikelana.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Absen Nomor 18 : Luna Raisa Putri"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#website","url":"https:\/\/artikelana.com\/","name":"Artikelana","description":"Cerita Tak Hanya Dibaca, Tapi Dirasa","publisher":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/artikelana.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#organization","name":"Artikelana","url":"https:\/\/artikelana.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/cropped-artikelana-logo-scaled-1.webp","contentUrl":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/cropped-artikelana-logo-scaled-1.webp","width":512,"height":512,"caption":"Artikelana"},"image":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#\/schema\/person\/c3b8803a05994e4eec7fb6895c9067ea","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin"},"sameAs":["https:\/\/artikelana.com"],"url":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/author\/admin\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/177","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=177"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/177\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":183,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/177\/revisions\/183"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/178"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=177"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=177"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=177"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}