{"id":121,"date":"2025-06-29T09:52:17","date_gmt":"2025-06-29T09:52:17","guid":{"rendered":"https:\/\/artikelana.com\/?p=121"},"modified":"2025-06-29T09:52:17","modified_gmt":"2025-06-29T09:52:17","slug":"sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/","title":{"rendered":"Sejarah Baru: Netralitas Atau Narasi Baru Yang Terkontrol"},"content":{"rendered":"<article>\n<blockquote><p><em>\u201cSejarah ditulis oleh yang menang,\u201d kata Winston Churchill. Tapi di Indonesia hari ini, sejarah tampaknya sedang ditulis ulang oleh yang sedang berkuasa.<\/em><\/p>\n<p>Oleh : Ian | <span style=\"font-size: 10pt;\"><em>27 Juni 2024<\/em><\/span><\/p><\/blockquote>\n<p>Baru-baru ini, Menteri Kebudayaan <strong data-start=\"531\" data-end=\"544\">Fadli Zon<\/strong> mengumumkan proyek besar: <em data-start=\"571\" data-end=\"615\">penulisan ulang sejarah nasional Indonesia<\/em>. Ia melibatkan 113 sejarawan dari berbagai daerah dengan anggaran hingga Rp 9 miliar. Tujuannya\u2014menurutnya\u2014adalah menyajikan sejarah yang lebih netral, ilmiah, dan &#8220;Indonesia-sentris&#8221;.<\/p>\n<p data-start=\"345\" data-end=\"642\">Kedengarannya keren tapi saya belum paham sampai saya nulis ini maksud dari Indonesia-Sentris. dan Akhirnya, kita punya sejarah yang tidak lagi dibingkai oleh kacamata kolonial atau narasi satu arah dari masa lalu. Namun, banyak pihak mempertanyakan arah dan motif di balik proyek ini. Tapi, <strong data-start=\"788\" data-end=\"880\">pertanyaannya bukan sekadar \u201csiapa yang menulis?\u201d, melainkan juga \u201csiapa yang disaring?\u201d<\/strong><\/p>\n<h4><strong><span style=\"font-size: 14pt;\">Netral? Atau Sekadar Narasi Dominan yang Dibungkus Baru?<\/span><\/strong><\/h4>\n<footer>\n<p data-start=\"929\" data-end=\"1245\">Salah satu langkah yang langsung menimbulkan kontroversi adalah keputusan untuk menghapus istilah <strong data-start=\"1024\" data-end=\"1057\">\u201cOrde Lama\u201d<\/strong>. Pemerintah menganggap istilah itu sarat muatan politis. Tapi pertanyaannya, jika satu istilah dianggap bias dan dihapus, apakah narasi-narasi lain akan diuji dengan standar yang sama? Apakah benar proyek ini bebas dari kecenderungan politis?<\/p>\n<p data-start=\"929\" data-end=\"1245\">Fadli Zon memang menyebut proyek ini bukan sejarah versi pemerintah. Namun, ketika negara mendanai, menyusun tim, dan menentukan arah, <strong data-start=\"1379\" data-end=\"1446\">narasi yang dihasilkan tetap dekat dengan kepentingan kekuasaan<\/strong>.<\/p>\n<h4 data-start=\"929\" data-end=\"1245\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><strong>Di Mana Suara Alternatif?<\/strong><\/span><\/h4>\n<p data-start=\"1507\" data-end=\"1641\">Meski proyek ini melibatkan ratusan sejarawan, kita tetap perlu bertanya: Seberapa banyak dari mereka yang mewakili sudut pandang non-mainstream?<\/p>\n<p data-start=\"1643\" data-end=\"1830\">Apakah sejarah perempuan, minoritas, komunitas adat, dan korban kekerasan negara juga akan tampil utuh? Ataukah proyek ini hanya menyajikan bagian-bagian yang \u201caman\u201d untuk citra nasional?<\/p>\n<p data-start=\"1832\" data-end=\"2053\">Selain itu, kita jarang mendengar perwakilan dari akademisi independen, arsip rakyat, atau sejarah lisan lokal turut dilibatkan. Kalau yang diundang hanya akademisi institusi besar, atau tokoh-tokoh yang aman secara politik, <strong data-start=\"1870\" data-end=\"1923\">maka yang dihasilkan hanyalah sejarah yang nyaman. <\/strong>Padahal sejarah tidak selalu nyaman. Kadang menyakitkan. Tapi itu yang membuatnya jujur.<\/p>\n<h4 data-start=\"1774\" data-end=\"2013\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><strong>Dialog atau Formalitas?<\/strong><\/span><\/h4>\n<p data-start=\"2110\" data-end=\"2261\">Fadli menjanjikan uji publik terhadap hasil proyek ini. Tapi, jika hanya menampilkan naskah setengah jadi lalu meminta komentar umum, apakah itu cukup?<\/p>\n<p data-start=\"2263\" data-end=\"2406\">Kita tidak boleh lupa: diskusi publik yang baik bukan sekadar formalitas, tapi forum terbuka untuk menguji, mempertanyakan, dan menyempurnakan.<\/p>\n<p data-start=\"2408\" data-end=\"2824\">Sebaliknya, Fadli malah menyebut para pengkritik proyek ini sebagai pembuat \u201cpepesan kosong\u201d (CNN Indonesia, Mei 2025).<br data-start=\"2658\" data-end=\"2661\" \/>Komentar ini memperlihatkan bagaimana kritik publik tidak selalu diterima secara terbuka\u2014padahal sejarah yang baik justru tumbuh dari debat dan ketegangan gagasan.<\/p>\n<h4 data-start=\"2582\" data-end=\"2618\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><strong>Menulis Ulang = Membuka Luka, Bukan Menutupi<\/strong><\/span><\/h4>\n<\/footer>\n<\/article>\n<p data-start=\"2884\" data-end=\"2962\">Sebagian orang mungkin berkata: \u201cKenapa sih harus mengungkit masa lalu terus?\u201d Namun, justru karena kita jarang mengungkit, banyak luka sejarah yang tidak pernah benar-benar sembuh.<br data-start=\"3066\" data-end=\"3069\" \/><strong data-start=\"3069\" data-end=\"3164\">Menulis ulang sejarah seharusnya bukan tentang memperindah narasi, tapi mengakui kenyataan. <\/strong>Bukan untuk membalas, tapi untuk mengingat.<br data-start=\"3210\" data-end=\"3213\" \/>Bukan untuk mengutuk masa lalu, tapi untuk menatap masa depan dengan lebih jernih.<\/p>\n<article>\n<footer>\n<h4 data-start=\"2620\" data-end=\"2690\"><strong><span style=\"font-size: 14pt;\">Sejarah Bukan Milik Negara Saja<\/span><\/strong><\/h4>\n<p data-start=\"3337\" data-end=\"3606\">Kita tidak perlu menunggu buku resmi pemerintah untuk mulai menulis ulang sejarah Indonesia versi kita.<br data-start=\"3440\" data-end=\"3443\" \/>Dengan media sosial, dokumenter, podcast, tulisan, dan seni visual, <strong data-start=\"3511\" data-end=\"3557\">anak muda bisa membangun narasi alternatif<\/strong>.<br data-start=\"3558\" data-end=\"3561\" \/>Narasi yang mungkin tidak nyaman, tapi jujur.<\/p>\n<p data-start=\"3608\" data-end=\"3811\">Kita perlu menciptakan sejarah yang bukan hanya diceritakan dari atas ke bawah, tapi dari bawah ke atas.<br data-start=\"3712\" data-end=\"3715\" \/>Karena kalau tidak, <strong data-start=\"3735\" data-end=\"3810\">yang muncul bukan kebenaran, tapi narasi kemenangan yang diformat ulang<\/strong>.<\/p>\n<blockquote>\n<p data-start=\"2620\" data-end=\"2690\"><em>&#8220;Melawan lupa adalah bentuk cinta.&#8221;<\/em><br data-start=\"3855\" data-end=\"3858\" \/><em>Maka, menulis ulang sejarah bukan soal melawan negara.<\/em><br data-start=\"3914\" data-end=\"3917\" \/><em>Tapi soal melawan amnesia kolektif yang membuat kita lupa siapa kita, dan dari mana kita datang.<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<\/footer>\n<\/article>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_121\" class=\"pvc_stats total_only  \" data-element-id=\"121\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" version=\"1.0\" viewBox=\"0 0 502 315\" preserveAspectRatio=\"xMidYMid meet\"><g transform=\"translate(0,332) scale(0.1,-0.1)\" fill=\"\" stroke=\"none\"><path d=\"M2394 3279 l-29 -30 -3 -207 c-2 -182 0 -211 15 -242 39 -76 157 -76 196 0 15 31 17 60 15 243 l-3 209 -33 29 c-26 23 -41 29 -80 29 -41 0 -53 -5 -78 -31z\"\/><path d=\"M3085 3251 c-45 -19 -58 -50 -96 -229 -47 -217 -49 -260 -13 -295 52 -53 146 -42 177 20 16 31 87 366 87 410 0 70 -86 122 -155 94z\"\/><path d=\"M1751 3234 c-13 -9 -29 -31 -37 -50 -12 -29 -10 -49 21 -204 19 -94 39 -189 45 -210 14 -50 54 -80 110 -80 34 0 48 6 76 34 21 21 34 44 34 59 0 14 -18 113 -40 219 -37 178 -43 195 -70 221 -36 32 -101 37 -139 11z\"\/><path d=\"M1163 3073 c-36 -7 -73 -59 -73 -102 0 -56 133 -378 171 -413 34 -32 83 -37 129 -13 70 36 67 87 -16 290 -86 209 -89 214 -129 231 -35 14 -42 15 -82 7z\"\/><path d=\"M3689 3066 c-15 -9 -33 -30 -42 -48 -48 -103 -147 -355 -147 -375 0 -98 131 -148 192 -74 13 15 57 108 97 206 80 196 84 226 37 273 -30 30 -99 39 -137 18z\"\/><path d=\"M583 2784 c-38 -19 -67 -74 -58 -113 9 -42 211 -354 242 -373 16 -10 45 -18 66 -18 51 0 107 52 107 100 0 39 -1 41 -124 234 -80 126 -108 162 -133 173 -41 17 -61 16 -100 -3z\"\/><path d=\"M4250 2784 c-14 -9 -74 -91 -133 -183 -95 -150 -107 -173 -107 -213 0 -55 33 -94 87 -104 67 -13 90 8 211 198 130 202 137 225 78 284 -27 27 -42 34 -72 34 -22 0 -50 -8 -64 -16z\"\/><path d=\"M2275 2693 c-553 -48 -1095 -270 -1585 -649 -135 -104 -459 -423 -483 -476 -23 -49 -22 -139 2 -186 73 -142 361 -457 571 -626 285 -228 642 -407 990 -497 242 -63 336 -73 660 -74 310 0 370 5 595 52 535 111 1045 392 1455 803 122 121 250 273 275 326 19 41 19 137 0 174 -41 79 -309 363 -465 492 -447 370 -946 591 -1479 653 -113 14 -422 18 -536 8z m395 -428 c171 -34 330 -124 456 -258 112 -119 167 -219 211 -378 27 -96 24 -300 -5 -401 -72 -255 -236 -447 -474 -557 -132 -62 -201 -76 -368 -76 -167 0 -236 14 -368 76 -213 98 -373 271 -451 485 -162 444 86 934 547 1084 153 49 292 57 452 25z m909 -232 c222 -123 408 -262 593 -441 76 -74 138 -139 138 -144 0 -16 -233 -242 -330 -319 -155 -123 -309 -223 -461 -299 l-81 -41 32 46 c18 26 49 83 70 128 143 306 141 649 -6 957 -25 52 -61 116 -79 142 l-34 47 45 -20 c26 -10 76 -36 113 -56z m-2057 25 c-40 -58 -105 -190 -130 -263 -110 -324 -59 -707 132 -981 25 -35 42 -64 37 -64 -19 0 -241 119 -326 174 -188 122 -406 314 -532 468 l-58 71 108 103 c185 178 428 349 672 473 66 33 121 60 123 61 2 0 -10 -19 -26 -42z\"\/><path d=\"M2375 1950 c-198 -44 -350 -190 -395 -379 -18 -76 -8 -221 19 -290 114 -284 457 -406 731 -260 98 52 188 154 231 260 27 69 37 214 19 290 -38 163 -166 304 -326 360 -67 23 -215 33 -279 19z\"\/><\/g><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cSejarah ditulis oleh yang menang,\u201d kata Winston Churchill. Tapi di Indonesia hari ini, sejarah tampaknya sedang ditulis ulang oleh yang sedang berkuasa. Oleh : Ian | 27 Juni 2024 Baru-baru ini, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengumumkan proyek besar: penulisan ulang sejarah nasional Indonesia. Ia melibatkan 113 sejarawan dari berbagai daerah dengan anggaran hingga Rp 9 miliar. Tujuannya\u2014menurutnya\u2014adalah menyajikan sejarah yang lebih netral, ilmiah, dan &#8220;Indonesia-sentris&#8221;. Kedengarannya keren tapi saya belum paham sampai saya nulis ini maksud dari Indonesia-Sentris. dan Akhirnya, kita punya sejarah yang tidak lagi dibingkai oleh kacamata kolonial atau narasi satu arah dari masa lalu. Namun, banyak pihak mempertanyakan arah dan motif di balik proyek ini. Tapi, pertanyaannya bukan sekadar \u201csiapa yang menulis?\u201d, melainkan juga \u201csiapa yang disaring?\u201d Netral? Atau Sekadar Narasi Dominan yang Dibungkus Baru? Salah satu langkah yang langsung menimbulkan kontroversi adalah keputusan untuk menghapus istilah \u201cOrde Lama\u201d. Pemerintah menganggap istilah itu sarat muatan politis. Tapi pertanyaannya, jika satu istilah dianggap bias dan dihapus, apakah narasi-narasi lain akan diuji dengan standar yang sama? Apakah benar proyek ini bebas dari kecenderungan politis? Fadli Zon memang menyebut proyek ini bukan sejarah versi pemerintah. Namun, ketika negara mendanai, menyusun tim, dan menentukan arah, narasi yang dihasilkan tetap dekat dengan kepentingan kekuasaan. Di Mana Suara Alternatif? Meski proyek ini melibatkan ratusan sejarawan, kita tetap perlu bertanya: Seberapa banyak dari mereka yang mewakili sudut pandang non-mainstream? Apakah sejarah perempuan, minoritas, komunitas adat, dan korban kekerasan negara juga akan tampil utuh? Ataukah proyek ini hanya menyajikan bagian-bagian yang \u201caman\u201d untuk citra nasional? Selain itu, kita jarang mendengar perwakilan dari akademisi independen, arsip rakyat, atau sejarah lisan lokal turut dilibatkan. Kalau yang diundang hanya akademisi institusi besar, atau tokoh-tokoh yang aman secara politik, maka yang dihasilkan hanyalah sejarah yang nyaman. Padahal sejarah tidak selalu nyaman. Kadang menyakitkan. Tapi itu yang membuatnya jujur. Dialog atau Formalitas? Fadli menjanjikan uji publik terhadap hasil proyek ini. Tapi, jika hanya menampilkan naskah setengah jadi lalu meminta komentar umum, apakah itu cukup? Kita tidak boleh lupa: diskusi publik yang baik bukan sekadar formalitas, tapi forum terbuka untuk menguji, mempertanyakan, dan menyempurnakan. Sebaliknya, Fadli malah menyebut para pengkritik proyek ini sebagai pembuat \u201cpepesan kosong\u201d (CNN Indonesia, Mei 2025).Komentar ini memperlihatkan bagaimana kritik publik tidak selalu diterima secara terbuka\u2014padahal sejarah yang baik justru tumbuh dari debat dan ketegangan gagasan. Menulis Ulang = Membuka Luka, Bukan Menutupi Sebagian orang mungkin berkata: \u201cKenapa sih harus mengungkit masa lalu terus?\u201d Namun, justru karena kita jarang mengungkit, banyak luka sejarah yang tidak pernah benar-benar sembuh.Menulis ulang sejarah seharusnya bukan tentang memperindah narasi, tapi mengakui kenyataan. Bukan untuk membalas, tapi untuk mengingat.Bukan untuk mengutuk masa lalu, tapi untuk menatap masa depan dengan lebih jernih. Sejarah Bukan Milik Negara Saja Kita tidak perlu menunggu buku resmi pemerintah untuk mulai menulis ulang sejarah Indonesia versi kita.Dengan media sosial, dokumenter, podcast, tulisan, dan seni visual, anak muda bisa membangun narasi alternatif.Narasi yang mungkin tidak nyaman, tapi jujur. Kita perlu menciptakan sejarah yang bukan hanya diceritakan dari atas ke bawah, tapi dari bawah ke atas.Karena kalau tidak, yang muncul bukan kebenaran, tapi narasi kemenangan yang diformat ulang. &#8220;Melawan lupa adalah bentuk cinta.&#8221;Maka, menulis ulang sejarah bukan soal melawan negara.Tapi soal melawan amnesia kolektif yang membuat kita lupa siapa kita, dan dari mana kita datang.<\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_121\" class=\"pvc_stats total_only  \" data-element-id=\"121\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" version=\"1.0\" viewBox=\"0 0 502 315\" preserveAspectRatio=\"xMidYMid meet\"><g transform=\"translate(0,332) scale(0.1,-0.1)\" fill=\"\" stroke=\"none\"><path d=\"M2394 3279 l-29 -30 -3 -207 c-2 -182 0 -211 15 -242 39 -76 157 -76 196 0 15 31 17 60 15 243 l-3 209 -33 29 c-26 23 -41 29 -80 29 -41 0 -53 -5 -78 -31z\"\/><path d=\"M3085 3251 c-45 -19 -58 -50 -96 -229 -47 -217 -49 -260 -13 -295 52 -53 146 -42 177 20 16 31 87 366 87 410 0 70 -86 122 -155 94z\"\/><path d=\"M1751 3234 c-13 -9 -29 -31 -37 -50 -12 -29 -10 -49 21 -204 19 -94 39 -189 45 -210 14 -50 54 -80 110 -80 34 0 48 6 76 34 21 21 34 44 34 59 0 14 -18 113 -40 219 -37 178 -43 195 -70 221 -36 32 -101 37 -139 11z\"\/><path d=\"M1163 3073 c-36 -7 -73 -59 -73 -102 0 -56 133 -378 171 -413 34 -32 83 -37 129 -13 70 36 67 87 -16 290 -86 209 -89 214 -129 231 -35 14 -42 15 -82 7z\"\/><path d=\"M3689 3066 c-15 -9 -33 -30 -42 -48 -48 -103 -147 -355 -147 -375 0 -98 131 -148 192 -74 13 15 57 108 97 206 80 196 84 226 37 273 -30 30 -99 39 -137 18z\"\/><path d=\"M583 2784 c-38 -19 -67 -74 -58 -113 9 -42 211 -354 242 -373 16 -10 45 -18 66 -18 51 0 107 52 107 100 0 39 -1 41 -124 234 -80 126 -108 162 -133 173 -41 17 -61 16 -100 -3z\"\/><path d=\"M4250 2784 c-14 -9 -74 -91 -133 -183 -95 -150 -107 -173 -107 -213 0 -55 33 -94 87 -104 67 -13 90 8 211 198 130 202 137 225 78 284 -27 27 -42 34 -72 34 -22 0 -50 -8 -64 -16z\"\/><path d=\"M2275 2693 c-553 -48 -1095 -270 -1585 -649 -135 -104 -459 -423 -483 -476 -23 -49 -22 -139 2 -186 73 -142 361 -457 571 -626 285 -228 642 -407 990 -497 242 -63 336 -73 660 -74 310 0 370 5 595 52 535 111 1045 392 1455 803 122 121 250 273 275 326 19 41 19 137 0 174 -41 79 -309 363 -465 492 -447 370 -946 591 -1479 653 -113 14 -422 18 -536 8z m395 -428 c171 -34 330 -124 456 -258 112 -119 167 -219 211 -378 27 -96 24 -300 -5 -401 -72 -255 -236 -447 -474 -557 -132 -62 -201 -76 -368 -76 -167 0 -236 14 -368 76 -213 98 -373 271 -451 485 -162 444 86 934 547 1084 153 49 292 57 452 25z m909 -232 c222 -123 408 -262 593 -441 76 -74 138 -139 138 -144 0 -16 -233 -242 -330 -319 -155 -123 -309 -223 -461 -299 l-81 -41 32 46 c18 26 49 83 70 128 143 306 141 649 -6 957 -25 52 -61 116 -79 142 l-34 47 45 -20 c26 -10 76 -36 113 -56z m-2057 25 c-40 -58 -105 -190 -130 -263 -110 -324 -59 -707 132 -981 25 -35 42 -64 37 -64 -19 0 -241 119 -326 174 -188 122 -406 314 -532 468 l-58 71 108 103 c185 178 428 349 672 473 66 33 121 60 123 61 2 0 -10 -19 -26 -42z\"\/><path d=\"M2375 1950 c-198 -44 -350 -190 -395 -379 -18 -76 -8 -221 19 -290 114 -284 457 -406 731 -260 98 52 188 154 231 260 27 69 37 214 19 290 -38 163 -166 304 -326 360 -67 23 -215 33 -279 19z\"\/><\/g><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":130,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"googlesitekit_rrm_CAowhNW8DA:productID":"","footnotes":""},"categories":[12],"tags":[30,44,49,46,47,45,48,43],"class_list":["post-121","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-rasa-kita","tag-esaiopini","tag-fadli-zon","tag-indonesia","tag-narasi-dominan","tag-opini","tag-penulisan-ulang-sejarah","tag-sejarah","tag-sejarah-indonesia"],"a3_pvc":{"activated":true,"total_views":55,"today_views":0},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Menulis Ulang Sejarah Indonesia: Fadli Zon &amp; Kritik terhadap Narasi Dominan | RasaKata- Artikelana<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Fadli Zon menggagas penulisan ulang sejarah nasional dengan melibatkan 113 sejarawan. Tapi benarkah ini netral dan inklusif? Artikel ini mengupas kritik terhadap narasi dominan dan peran anak muda dalam menjaga kejujuran sejarah.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menulis Ulang Sejarah Indonesia: Fadli Zon &amp; Kritik terhadap Narasi Dominan | RasaKata- Artikelana\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Fadli Zon menggagas penulisan ulang sejarah nasional dengan melibatkan 113 sejarawan. Tapi benarkah ini netral dan inklusif? Artikel ini mengupas kritik terhadap narasi dominan dan peran anak muda dalam menjaga kejujuran sejarah.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Artikelana\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-06-29T09:52:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/artikelana2-1024x683.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"683\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/29\\\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/29\\\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c3b8803a05994e4eec7fb6895c9067ea\"},\"headline\":\"Sejarah Baru: Netralitas Atau Narasi Baru Yang Terkontrol\",\"datePublished\":\"2025-06-29T09:52:17+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/29\\\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\\\/\"},\"wordCount\":546,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/29\\\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/artikelana2.png\",\"keywords\":[\"EsaiOpini\",\"Fadli Zon\",\"Indonesia\",\"narasi dominan\",\"opini\",\"penulisan ulang sejarah\",\"Sejarah\",\"sejarah Indonesia\"],\"articleSection\":[\"Rasa Kita\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/29\\\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/29\\\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/29\\\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\\\/\",\"name\":\"Menulis Ulang Sejarah Indonesia: Fadli Zon & Kritik terhadap Narasi Dominan | RasaKata- Artikelana\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/29\\\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/29\\\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/artikelana2.png\",\"datePublished\":\"2025-06-29T09:52:17+00:00\",\"description\":\"Fadli Zon menggagas penulisan ulang sejarah nasional dengan melibatkan 113 sejarawan. Tapi benarkah ini netral dan inklusif? Artikel ini mengupas kritik terhadap narasi dominan dan peran anak muda dalam menjaga kejujuran sejarah.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/29\\\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/29\\\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/29\\\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/artikelana2.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/artikelana2.png\",\"width\":1536,\"height\":1024},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/29\\\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sejarah Baru: Netralitas Atau Narasi Baru Yang Terkontrol\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/\",\"name\":\"Artikelana\",\"description\":\"Cerita Tak Hanya Dibaca, Tapi Dirasa\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#organization\",\"name\":\"Artikelana\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/08\\\/cropped-artikelana-logo-scaled-1.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/08\\\/cropped-artikelana-logo-scaled-1.webp\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"Artikelana\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c3b8803a05994e4eec7fb6895c9067ea\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/artikelana.com\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/artikelana.com\\\/index.php\\\/author\\\/admin\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menulis Ulang Sejarah Indonesia: Fadli Zon & Kritik terhadap Narasi Dominan | RasaKata- Artikelana","description":"Fadli Zon menggagas penulisan ulang sejarah nasional dengan melibatkan 113 sejarawan. Tapi benarkah ini netral dan inklusif? Artikel ini mengupas kritik terhadap narasi dominan dan peran anak muda dalam menjaga kejujuran sejarah.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Menulis Ulang Sejarah Indonesia: Fadli Zon & Kritik terhadap Narasi Dominan | RasaKata- Artikelana","og_description":"Fadli Zon menggagas penulisan ulang sejarah nasional dengan melibatkan 113 sejarawan. Tapi benarkah ini netral dan inklusif? Artikel ini mengupas kritik terhadap narasi dominan dan peran anak muda dalam menjaga kejujuran sejarah.","og_url":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/","og_site_name":"Artikelana","article_published_time":"2025-06-29T09:52:17+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":683,"url":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/artikelana2-1024x683.png","type":"image\/png"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#\/schema\/person\/c3b8803a05994e4eec7fb6895c9067ea"},"headline":"Sejarah Baru: Netralitas Atau Narasi Baru Yang Terkontrol","datePublished":"2025-06-29T09:52:17+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/"},"wordCount":546,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/artikelana2.png","keywords":["EsaiOpini","Fadli Zon","Indonesia","narasi dominan","opini","penulisan ulang sejarah","Sejarah","sejarah Indonesia"],"articleSection":["Rasa Kita"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/","url":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/","name":"Menulis Ulang Sejarah Indonesia: Fadli Zon & Kritik terhadap Narasi Dominan | RasaKata- Artikelana","isPartOf":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/artikelana2.png","datePublished":"2025-06-29T09:52:17+00:00","description":"Fadli Zon menggagas penulisan ulang sejarah nasional dengan melibatkan 113 sejarawan. Tapi benarkah ini netral dan inklusif? Artikel ini mengupas kritik terhadap narasi dominan dan peran anak muda dalam menjaga kejujuran sejarah.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/#primaryimage","url":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/artikelana2.png","contentUrl":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/artikelana2.png","width":1536,"height":1024},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/2025\/06\/29\/sejarah-baru-netralitas-atau-narasi-baru-yang-terkontrol\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/artikelana.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sejarah Baru: Netralitas Atau Narasi Baru Yang Terkontrol"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#website","url":"https:\/\/artikelana.com\/","name":"Artikelana","description":"Cerita Tak Hanya Dibaca, Tapi Dirasa","publisher":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/artikelana.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#organization","name":"Artikelana","url":"https:\/\/artikelana.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/cropped-artikelana-logo-scaled-1.webp","contentUrl":"https:\/\/artikelana.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/cropped-artikelana-logo-scaled-1.webp","width":512,"height":512,"caption":"Artikelana"},"image":{"@id":"https:\/\/artikelana.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/artikelana.com\/#\/schema\/person\/c3b8803a05994e4eec7fb6895c9067ea","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5fc1ff56f49d34fed5e1418835236cfa8d7f929d62b0edf3c2fe0e75d8922cc7?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin"},"sameAs":["https:\/\/artikelana.com"],"url":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/author\/admin\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=121"}],"version-history":[{"count":18,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":151,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121\/revisions\/151"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/130"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=121"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=121"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/artikelana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=121"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}